Tak Bernama

Ada hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan dalam hidup ini. Perasaan. Sedih, marah, khawatir, cemburu, senang,  bahagia, cinta. Dari semua itu yang bisa kita kendalikan hanyalah manifestasinya. Mengangkat dagu seraya berkata pada dunia aku baik-baik saja. Mengembangkan senyuman lebar dan menertawakan kehilangan. Atau sebaliknya. Berwajah datar ketika hati bergejolak senang. Berbicara tenang, padahal degup jantung hampir mengalahkan suara itu sendiri.

Tapi rasa itu. Tetap ada. Bersarang, mengisi setiap rongga hati. Kadang memberi semangat, kadang menggerogoti. Diredam setengah mati oleh logika sepanjang hari. Tapi di malam hari ketika kita sendiri. Di dalam sunyi, mereka muncul mengganggu tidur. Dalam bentuk air mata, atau senyum yang tak lagi bisa ditahan.

Rasa

Kehadirannya membuat hidup lebih berwarna.

Tapi bagaimana jika rasa tak diberi tempat. Baru hadir sejenak, dia ditumpas oleh logika. Ketika pikir mengalihkan dengan segudang pekerjaan yang tiada henti. Rasa itu bahkan tak bernama. Tak tahu apakah dia sedih, bahagia, atau patah hati. Nama-nama itu teredam tak mampu didefinisikan. Dia menjadi laten tak terungkapkan, bahkan tak bernama.

Haya saja, sebuah lagu bisa membuatmu menangis tanpa kamu tahu kenapa

Hanya saja, mulutmu menceracau tak terkendali tanpa kamu tahu kenapa

Hanya saja, kamu hanya ingin sendiri tanpa kamu tahu kenapa

Rasa itu tetap ada, tetap tak bisa dikendalikan, tetap mempengaruhi setiap langkah kehidupan

Meski dia tak bernama

Mencari Mood

Aku mencarimu

Di antara deretan kalimat di dunia maya

Kucoba selami berbagai akun yang kupunya

Twitter

Facebook

Path

Bukannya kamu yang kutemukan,

Malah pertanyaan tentang dia, tentang aku, tentang kami, dan kata apa yang bisa merangkai tiga tentang itu.

 

Aku mencarimu

Berulang kali mencoba kembali

Buka tutup berbagai dokumen dan deretan tulisan yang pernah kuketik

Kubaca lagi, kuhapus lagi, hambar

Malah menuntunku pada sejumlah dokumen yang harus kuisi, dan deadline pengirimannya sudah sejak bulan Juni

 

Aku mencarimu

Hanya tuk selesaikan satu halaman dari beberapa halaman yang sudah selesai kuisi

Agar dia menjadi dokumen utuh yang seharusnya sudah kukirim sejak beberapa jam yang lalu

Aku butuh sedikit saja sentuhanmu. Sedikit saja. Tuk selesaikan kewajiban yang membuatku bermalam di kantor di hari kerja pertamaku setelah libur lebaran.

 

Aku mencarimu

Dan ini upaya terakhirku sebelum menyerah. Berharap lincahnya jemariku yang menyusun kata-kata di dalam tulisan ini, akan berpindah pada dokumen yang hampir jadi.

Bukan Sekedar Relawan

IMG-20140705-WA0032     

Ini pertama kalinya aku menangis karena memikirkan Negara

Selama 26 tahun aku tumbuh di negeri ini. Makan dari tanahnya, minum dari samuderanya (meski di waktu-waktu belakangan ini kita dibanjiri oleh produk import). Semestinya menjadi alasan yang begitu mudah untuk mencintai Indonesia.

Ya, aku mencintai Indonesia lewat kaca mata seorang Ibu, perempuan, single parent, yang berjuang keras untuk mencukupi kehidupan dia dan kelima anaknya. Aku mencintai Indonesia lewat kacamata sepasang pemulung yang menyaksikan hujan kembang api di malam tahun baru, sementara ketiga anak mereka tertidur di dalam gerobak. Aku mencintai Indonesia lewat belaian seorang Bapak gelandangan yang di malam hari berusaha mendekap erat agar anaknya tetap hangat meski tidur di pinggir jalan. Aku mencintai Indonesia lewat air mata perempuan buruh migran, yang meski terus menerima hinaan, meski menahan berjuta kerinduan, tetap bertahan hingga si buyung dan si upik bisa sekolah.

Aku mencintai Indonesia, tidak dengan Negara yang berarti penguasa. Nyatanya rakyat lebih pintar, lebih hebat, lebih bekerja keras jauh dari mereka. Nyatanya rakyat berjuang sendiri seraya tetap menggaji orang-orang yang kerjanya hanya menghasilkan sampah pembangunan. Mengeruk keuntungan kemudian menggusur. Mendapatkan jabatan kemudian membiarkan rakyat yang sakit tak bisa berobat, anak-anak tak bisa sekolah.

Aku tak percaya pada Negara

2004, ketika teman-teman sekolahku sudah bisa memilih, memamerkan jari mereka yang berhias tinta ungu. Sementara usiaku kurang beberapa bulan tuk mencapai 17. Jangankan iri, peduli pun tidak. Buat apa? Toh tak ada pilihan yang patut kupilih.

2009, hak pilih sudah kumiliki. Berangkat ke TPS, membuka surat suara di bilik, lalu dengan mantap menyilang gambar ketiga pasang kandidat. Kugunakan hak ku dengan tuntas. Tak sudi surat suaraku disalahgunakan, meski dia tak akan masuk hitungan.

Lalu ada yang berbeda di 2014. Ada yang mengubahku melalui sebuah konser yang kuhadiri sekedar tuk menikmati musik dari artis-artis yang kusukai. Ada yang berdesir di dalam dadaku ketika sang master of ceremony mendengungkan “Apakah kalian semua siap untuk mendukung orang baik?” Aku terhentak. Pilihan golput yang sempat aku putuskan tiba-tiba goyah oleh satu kalimat.

 IMG-20140606-WA0001 (1)

Perwakilan Serikat PRT Sapu Lidi Jakarta. Mereka menyumbang 'koin untuk Jokowi.' di visi misi Jokowi JK lah tertera perlindungan PRT dan UU Perlindungan PRT. 'Koin untuk Jokowi' juga disumbangkan di wilayah lain seperti Semarang, Jogja, dll, bertepatan dengan tanggal 16 Juni, Hari PRT Internasional

Perwakilan Serikat PRT Sapu Lidi Jakarta. Mereka menyumbang ‘koin untuk Jokowi.’ di visi misi Jokowi JK lah tertera perlindungan PRT dan UU Perlindungan PRT. ‘Koin untuk Jokowi’ juga disumbangkan di wilayah lain seperti Semarang, Jogja, dll, bertepatan dengan tanggal 16 Juni, Hari PRT Internasional

Keputusanku berubah semakin mantap. Tak hanya oleh sang MC dan pengisi acara di konserRock The Vote. Tetapi juga oleh para Pekerja Rumah Tangga yang di 16 Juni menyumbang koin untuk Jokowi. Oleh keluarga korban penculikan 1999 yang berorasi dan berpuisi di aksi kamisan ketiga ratus sekian kali. Oleh para oma korban 65 yang tetap hadir memperjuangkan keadilan. Oleh para tukang becak yang mengayuh becak mereka sejak pagi demi bergabung di Konser 2 jari.

IMG-20140705-WA0012

Rombongan tukang becak yang beriringan menuju GBK.

 

 

 

 

 

 

 

 

Marcus Siahaan keponakan dari Ucok Siahaan salah satu korban penculikan 98, berorasi di aksi Kamisan. Dia bilang: Negara ini bodoh membiarkan seorang pelanggar HAM menjadi capres

Marcus Siahaan (10 tahun) keponakan dari Ucok Siahaan salah satu korban penculikan 98, berorasi di aksi Kamisan. Dia bilang: Negara ini bodoh membiarkan seorang pelanggar HAM menjadi capres

 

Keputusanku juga kuambil melalui visi misi kedua pasang kandidat yang kucoba lumat habis-habisan. Melalui pernyataan demi pernyataan di debat kandidat maupun timses. Melalui kampanye yang kucermati, dokumen yang kupelajari.

perempuan               Buruh Migran

Ya, aku bergabung dengan mereka. Para relawan dan juga reLAWAN. Orang-orang yang membuat aku bangga berIndonesia. Membuatku berpikir lebih tentang Negara.

Mataku yang cengeng terlalu sering menangis. Dia menangis ketika membaca kisah picisan kakak-kaakkku yang kubaca diam-diam di diary mereka. Dia menangis ketika sebuah lagu mengumandangkan lara. Dia menangis marah mendengar tutur seorang korban perkosaan yang kerap disalahkan karena pakaian. Dia menangis geram mendengar seorang perempuan, buruh migran yang diperkosa majikan, malah dituduh zina dan harus melahirkan di penjara. Dia menangis ketika sosok seorang Ibu yang ditemui di luar sana membuncahkan kerinduanku kepada Mama.

Tapi mataku tak pernah menangis karena memikirkan Negara

Tapi pagi ini, mataku kembali menuangkan air mata. Atas emosi yang tercampur melalui berbagai gambar. Gambar wajah-wajah yang bergabung di GBK kemarin. Tua, muda, apapun profesi mereka. Datang dengan kesadaran tanpa bayaran. Tergerak atas kepercayaan akan harapan. Mereka percaya Indonesia berhak mencapai titik terang. Mereka membuatku percaya, mungkin bukan pada Negara, tapi pada kekuatan rakyat, suara rakyat, kehendak rakyat yang melawan.

Gambar itu mereda sejenak, saat mimpi semalam kembali teringat. Peluru, rumah sakit, dan kerinduan pada keluarga. Silahkan terjemahkan dengan bebas jalinan apa yang tengah muncul di dalam tidurku semalam. Dia muncul setelah berbagai kabar mengenai intimidasi. Dari Aceh hingga Timika. Mimpi itu datang setelah kabar kisruh Pemilu kuverifikasi melalui beberapa akun terpercaya, dan sumber langsung.

Untuk pertama kalinya aku menangis memikirkan Negara. Menangis bukan berarti takut, namun hati dan diri sudah harus siap siaga. Seperti yang kutulis di atas, aku bergabung bukan hanya dengan para relawan. Tetapi juga reLAWAN.

10511202_10152538775743258_1339958038626493935_n

Saya memahami bahwa Jokowi pun memiliki banyak sekali kekurangan. Pilihan saya diambil berdasarkan risiko terkecil yang saya coba hitung. Termasuk melihat track record, dan proses kampanye. Saya harap cara-cara mengedepankan dialog dan pelibatan masyarakat yang selama ini tercermin bisa kembali terwujud apabila ia memimpin negeri ini.

saya pilih dia, karena dia tidak sendiri, 

Menua

Rasanya saya menua begitu cepat. Kehilangan usia muda yang lewat begitu saja. Usia yang meledak-ledak penuh arogansi khas darah muda. Sudah berganti dengan menit demi menit yang dilewati dnegan kontepelasi, berpikir panjang, dan kadang-kadang stuck pada  dilema berkepanjangan.

Saya kehilangan makna dari umpatan spontan, caci maki yang mengalir begitu lancar. Pun kini mengumpat atau mencaci mesti ada yang dituju. Tak mau sembarangan, beralih menjadi orang setengah robot. Terancang dalam kata sikap perbuatan. Bahkan kadang lebih banyak berpikir ini itu, lalu kreativitas ikut menguap tak bersisa. Tak spontan.

Saya bukannya kehilangan bersenang-senang. Kesenangan muda yang naïf itu yang hilang. Berganti kesenangan dewasa, musik, keramaian, kegilaan. Kesenangan yang gila, namun tetap tidak spontan. Ada koridor yang harus diikuti, tanggung jawab namanya.

Saya kehilangan kesenangan mengumpat dan mencaci maki. Berganti menjadi merutuki diri sendiri. Mempertanyakan konsistensi atas segala kontradiksi yang saat ini ditemui. Tenggelam dalam perang berkepanjangan antara idealisme dan kebutuhan. Kebutuhan tentu bukan berarti uang, lebih pada ambisi dan capaian, yang kadang melesat jauh meninggalkan kemurnian hati nurani.

Rasanya saya menjadi lebih tua dari usia saya 

Kegelisahanku Sendiri

Sendainya aku mampu meredakan gelisahmu,

Namun mampuku hanya menahannya tuk sementara

Gelisah itu kerap datang tak menentu,

Berpijak tanpa izin, menetap, di setiap rongga pikirmu

Dia seakan mengalah dan hilang sesekali,

Membuatku tenang, meredakan gelisahku sejenak saja

Lalu di tengah perbincangan ringan kita

Di tengah tema keriangan yang begitu sederhana

Di tengah belai manja dan senyum sayang di paras elokmu

Gelisahmu datang lagi,

Menggeliat, bertanya, dan menuntut

Tak jarang berakhir pada air mata

Seakan ketiadaanku berarti sunyi bagimu

Seakan jarak yang hanya beberapa jam saja membuatmu beku

 

Seandainya aku mampu meredakan gelisahmu, Ma

Namun aku memiliki kegelisahanku sendiri

Yang hanya bisa reda

Pada apa yang membuatmu gelisah

Maaf

Menuju Matang

Izinkanlah kali ini saya memperlakukan blog saya ini sebagai buku diary (padahal mah udah banyak curhatan picisan di blog ini :p). Karena keresahan hati ini sangat ingin saya bagi. Bisa jadi hanya butuh tercurahkan, atau mungkin siapa tahu bisa juga jadi pembelajaran.

Belakangan ini banyak hal yang membuatku menjadi begitu mudah mengeluarkan air mata. Mulai dari kisah-kisah yang kusaksikan, atau dengarkan, hingga tantangan hidup yang kini terasa begitu nyata. Di usiaku yang tak lagi dini ini mungkin aku tengah menghadapi tahap yang menguji kematanganku. Kematangan hidup ataupun kematangan berpikir. Karena tantangan yang aku hadapi bukan sekedar persoalan ece-ece, apalagi picisan. Ini soal ideology, soal prinsip, soal pilihan hidup. Namun bersama dengan tantangan-tangan itu muncul pembelajaran yang membuahkan Harapan.

Akhir-akhir ini aku banyak bersentuhan dengan isu kekerasan seksual. Lewat film, Berita, maupun korbannya langsung. Cerita mereka, trauma dan kesedihan, hingga perasaan bersalah dan ingin bunuh diri tidak hanya menguras air mata, tapi juga marah dan geram. Cukup marah untuk memantapkan sebuah komitmen. Bahwa aku tidak akan diam.

Namun di balik semua kisah sedih tentang kekerasan terhadap perempuan, di tahap ini aku juga bertemu banyak orang yang memberikan pembelajaran. Tak hanya perempuan, survivor, pendamping yang hebat. Tapi juga para laki-laki yang terlibat. Mereka yang sepenuhnya sadar bahwa perempuan bukan atribut laki-laki, bahwa laki-laki juga harus berperan dalam penghapusan kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan. Kehebatan mereka bukan Cuma di pemikiran, mereka berbuat, mereka tidak diam, maka kami perempuan tidak sendirian.

Lalu ke tantangan pribadiku. Ketika generasi berganti, dan paradigm generasi sekarang jauh berbeda dengan sebelumnya. Well, soal ini mungkin tidak bisa digeneralisasi menjadi persoalan antar generasi. Tapi setidaknya persoalan inilah yang terjadi. Antara aku dan mama.

Belum lama ini sebuah pesan masuk melalui Whatsapp. Beberapa jam setelah Mama melarangku pulang ke rumah dengan alas an malu kalau hansip melihatku pulang pukul 2 pagi. Pesan yang lebih serius dari peringatan-peringatan mama sebelumnya. Lengkap dengan ungkapan ‘kalau kamu masih ngerasa punya mama,’ dan kata-kata lainnya yang membuatku merasa bersalah sekaligus geregetan. Intinya soal mama merasa aku anak bungsu kesayangannya ini sudah mulai melenceng. Soal pulang tengah malam, soal ‘keluar rumah’ padahal belum kawin, sampai soal bagaimana pandanganku mengenai perkawinan itu sendiri. Yah, kalau memang ukurannya pendapat mainstream nan feodal dan konservatif si mau bilang apa? Malah aneh kalau aku ga melenceng, hehe.

Tapi masalah menjadi rumit ketika Mama menimpakan semua kesalahan pada dunia kerjaku. Beliau berkeyakinan kalau melencengnya aku itu akibat lingkungan kerjaku, dunia orangt-orang feminis, haha. Sehingga permintaannya yang tidak bisa ditawar adalah untuk aku segera meninggal dunia aktivitas (baca:kerjaku) sekarang.

Di satu sisi, aku telah meyakini pilihan yang sudah kuambil. Aku telah mantap dan sangat bersyukur dengan jalan yang aku tapaki saat ini. Namun di sisi lain, mama telah sukses membuatku merasa bersalah. Sukses membuatku merasa telah membuatnya sedih. Seandainya mama tahu cintaku padanya begitu dalam. Bahkan karena cintaku padanya lah yang membuatku tak bisa diam. Membuatku ingin terus bergerak, berjuang, menggeliat di jalan yang kupilih saat ini.

Lalu ada cerita tentang beberapa kawan. Bukan hanya aku kawan, begitu banyak orang yang mengalami tantangan, menghadapi pertentangan perspektif dan keinginan dengan orang tua. Di sini aku banyak belajar. dari mereka yang harus menghadapi keluarga hingga berujung ke pengusiran. Mereka yang memilih profesi berbeda dari ekspektasi. Mereka yang menikah tidak dengan yang seagama. Mereka yang menyatakan orientasi seksual tidak seperti yang diharapkan orang tua.mereka bertahan, seraya berusaha tetap berbakti pada orang-orang yang meraka sayangi. Sulit memang. Tapi mereka bertahan.

Usiaku tak lagi dini, maka hidupku memang tak lagi soal remeh dan picisan. Hidupku adalah proses menuju kematangan. Berpikir, memilih, berideologi, bersikap. Keempatnya harus matang. Namun ada satu yang akan terus menjadi proses tanpa akhir. Yaitu perjuangan.