Tentangku

Ingatkah ketika kita berjalan beriringan. Berpapasan dengan rintik hujan yang masih tersisa. Bermain menarik dahan pohon hingga basah menyiram tubuh kita

Kamu, aku, mereka, kita.

Senyummu ketika itu adalah senyum yang terus kukenal hingga tiga bulan kemarin. Setia menyapa hari, menghampiri, mendekap langkahku agar terus menyertaimu

Meski ku tak pernah tahu kemana kaki ini kan kau bawa melangkah

Kita tak lagi kita

Akupun memilih tuk tak kecewa. Meski terlalu banyak kenangan tertinggal. Kamu tahu? Hampir setiap menit kulewati dengan adegan demi adegan yang pernah terjadi selama 12 tahun ini. Adegan yang bahkan sebelumnya tak pernah kuingat. Tiba-tiba mereka menyeruak.

Aku memilih tuk tak kecewa, tak mendendam, apalagi mengungkapkan amarah.

Karena ini bukan tentang kamu, bukan tentang dia, bukan tentang kalian

Ini pun bukan tentang kita

Ini tentangku. Dengan sejuta perasaan yang terus kupendam. Dengan harapan yang hanya berani kugantungkan setingi bintang tanpa kukejar

Ini tentangku

Ini tentangku

Konversasi

Hai dunia,
Hidup berjalan seperti biasa. Matahari terbit dari timur, satu mingu tetap hanya berisi tujuh hari, dan presiden baru kami tentu saja belum memperlihatkan perubahan di masa kerjanya yang baru seujung kuku ini.

Hidup berjalan seperti biasa. Dengan tumpukan pekerjaan yang menagih untuk dikerjakan. Dengan to do list yang selalu bberhasil kucoret namun daftarnya tetap terus bertambah. Dengan rutinitas menyenangkan namun terlalu biasa. Penuh tawa dan canda, namun hanya menghadirkan senyum yang biasa. Itu-itu saja.

Hidup berjalan seperti biasa. Dengan perdebatan yang memang dirancang untuk tidak berujung. Dengan harapan yang terus ditumbuhkan setinggi bintang, namun tak dirangcang untuk dicapai karena berjuta alasan.

Aku hanya bagian teramat kecil dari bumi yang katanya terus berotasi ini. Bumi yang semakin tua, sakit-sakitan, dan entah sampai kapan mampu mempertahankan kekuatan. Bumi yang jika aku ajak bicara, lalu bercerita panjang lebar. Tentang seorang ibu yang setiap pagi pergi ke hutan mencari kayu bakar. Tentang seorang anak berusia 6 tahun yang menjaga adiknya dalam kelelapan. Sementara di tanah lainnya, seorang penjahat berdasi sedang menandatangani seuah kertas berisi jutaan hektar tanah akan ditelan. Beribu keluarga yang akan tergusur, ratusan pemudi pemuda yang kehilangan lahan untuk digarap

Aku bagian teramat kecil dari dunia yang tengah berjalan. Dari Kamu, Anda, Kalian yang sibuk menikmati indahnya dunia, dengan atau tanpa menutup mata dari fakta yang telah terpapar. Karena dunia selalu menawarkan sisi manis untuk dikecap. Mampukah aku, mampukah Anda mengecapnya? Ah, aku tidak sedang bertanya pada Anda sebenarnya. Tapi kepadaku sendiri. Kepada sebutir debu yang paling tidak diperhitungkan, yang memang tak pernah meminta untuk perhitungan.

Kadang aku lelah dengan percakapan ini. Percakapan tanpa akhir, tak berujung, karena debat yang dibuat memang tidak untuk diselesaikan, termasuk mendebat diri sendiri. Namun dari sanalah aku tahu aku hidup. Dari sanalah aku tahu bahwa aku berpikir, bahwa aku masih menjalankan fungsiku sebagai manusia. Berpikir, bernalar, bertindak.

….

Aku mengecewakannya.

Lagi dan lagi, tak henti-henti kutubi dia dengan kecewa

Saat kakinya akan melangkah menuju perjuangan yang ingin ia raih

Egoku terus melawan meskin hatiku terasa perih, kembali harus berhadapan dengan kecewanya

Dia marah. Aku tahu, tanpa pun dia beri tahu. Tapi dia pun tegas berkata begitu

Aku dengar gemetar suaranya yang disampaikan kabel entah berapa ratus meter

Aku rasakan amarahnya meski wajahnya tak Nampak di hadapanku

Sesal tentu datang

Seharusnya tak kuucap langsung kata tidak itu,

Biarkan surga telinga kucipta, meski kubuat untuk nantinya kuruntuhkan sendiri

Ah percuma saja

Toh ujung-ujungnya aku hanya bisa membuanya kecewa

Ketika benar baginya bukan benar bagiku

Ketika dia ingin aku bahagia, tapi dengan cara yang dia tidak tahu itu akan membuatku tidak bahagia

Mungkin dia berharap aku kembali kecil

Hidup di dalam dunia mungil, di bawah penjagaannya

Mendengarkan setiap perkataannya, percaya, dan memiliki ingin sederhana

Bukan seperti sekarang,

Kerap mengejutkannya dengan kalimat-kalimat tak terduga

Dan ujung-ujungnya membuat dia kecewa.

Cinta saja tak cukup

Kasih sayang kadang berbenturan dengan kepercayaan dan perbedaan

Bisakah kita beda?

Bisakah aku hidup dengan orang yang berbeda?

Bisakah beda tidak membuat kecewa?

Aku pun kecewa

Entah pada siapa

Tak Bernama

Ada hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan dalam hidup ini. Perasaan. Sedih, marah, khawatir, cemburu, senang,  bahagia, cinta. Dari semua itu yang bisa kita kendalikan hanyalah manifestasinya. Mengangkat dagu seraya berkata pada dunia aku baik-baik saja. Mengembangkan senyuman lebar dan menertawakan kehilangan. Atau sebaliknya. Berwajah datar ketika hati bergejolak senang. Berbicara tenang, padahal degup jantung hampir mengalahkan suara itu sendiri.

Tapi rasa itu. Tetap ada. Bersarang, mengisi setiap rongga hati. Kadang memberi semangat, kadang menggerogoti. Diredam setengah mati oleh logika sepanjang hari. Tapi di malam hari ketika kita sendiri. Di dalam sunyi, mereka muncul mengganggu tidur. Dalam bentuk air mata, atau senyum yang tak lagi bisa ditahan.

Rasa

Kehadirannya membuat hidup lebih berwarna.

Tapi bagaimana jika rasa tak diberi tempat. Baru hadir sejenak, dia ditumpas oleh logika. Ketika pikir mengalihkan dengan segudang pekerjaan yang tiada henti. Rasa itu bahkan tak bernama. Tak tahu apakah dia sedih, bahagia, atau patah hati. Nama-nama itu teredam tak mampu didefinisikan. Dia menjadi laten tak terungkapkan, bahkan tak bernama.

Haya saja, sebuah lagu bisa membuatmu menangis tanpa kamu tahu kenapa

Hanya saja, mulutmu menceracau tak terkendali tanpa kamu tahu kenapa

Hanya saja, kamu hanya ingin sendiri tanpa kamu tahu kenapa

Rasa itu tetap ada, tetap tak bisa dikendalikan, tetap mempengaruhi setiap langkah kehidupan

Meski dia tak bernama

Mencari Mood

Aku mencarimu

Di antara deretan kalimat di dunia maya

Kucoba selami berbagai akun yang kupunya

Twitter

Facebook

Path

Bukannya kamu yang kutemukan,

Malah pertanyaan tentang dia, tentang aku, tentang kami, dan kata apa yang bisa merangkai tiga tentang itu.

 

Aku mencarimu

Berulang kali mencoba kembali

Buka tutup berbagai dokumen dan deretan tulisan yang pernah kuketik

Kubaca lagi, kuhapus lagi, hambar

Malah menuntunku pada sejumlah dokumen yang harus kuisi, dan deadline pengirimannya sudah sejak bulan Juni

 

Aku mencarimu

Hanya tuk selesaikan satu halaman dari beberapa halaman yang sudah selesai kuisi

Agar dia menjadi dokumen utuh yang seharusnya sudah kukirim sejak beberapa jam yang lalu

Aku butuh sedikit saja sentuhanmu. Sedikit saja. Tuk selesaikan kewajiban yang membuatku bermalam di kantor di hari kerja pertamaku setelah libur lebaran.

 

Aku mencarimu

Dan ini upaya terakhirku sebelum menyerah. Berharap lincahnya jemariku yang menyusun kata-kata di dalam tulisan ini, akan berpindah pada dokumen yang hampir jadi.

Bukan Sekedar Relawan

IMG-20140705-WA0032     

Ini pertama kalinya aku menangis karena memikirkan Negara

Selama 26 tahun aku tumbuh di negeri ini. Makan dari tanahnya, minum dari samuderanya (meski di waktu-waktu belakangan ini kita dibanjiri oleh produk import). Semestinya menjadi alasan yang begitu mudah untuk mencintai Indonesia.

Ya, aku mencintai Indonesia lewat kaca mata seorang Ibu, perempuan, single parent, yang berjuang keras untuk mencukupi kehidupan dia dan kelima anaknya. Aku mencintai Indonesia lewat kacamata sepasang pemulung yang menyaksikan hujan kembang api di malam tahun baru, sementara ketiga anak mereka tertidur di dalam gerobak. Aku mencintai Indonesia lewat belaian seorang Bapak gelandangan yang di malam hari berusaha mendekap erat agar anaknya tetap hangat meski tidur di pinggir jalan. Aku mencintai Indonesia lewat air mata perempuan buruh migran, yang meski terus menerima hinaan, meski menahan berjuta kerinduan, tetap bertahan hingga si buyung dan si upik bisa sekolah.

Aku mencintai Indonesia, tidak dengan Negara yang berarti penguasa. Nyatanya rakyat lebih pintar, lebih hebat, lebih bekerja keras jauh dari mereka. Nyatanya rakyat berjuang sendiri seraya tetap menggaji orang-orang yang kerjanya hanya menghasilkan sampah pembangunan. Mengeruk keuntungan kemudian menggusur. Mendapatkan jabatan kemudian membiarkan rakyat yang sakit tak bisa berobat, anak-anak tak bisa sekolah.

Aku tak percaya pada Negara

2004, ketika teman-teman sekolahku sudah bisa memilih, memamerkan jari mereka yang berhias tinta ungu. Sementara usiaku kurang beberapa bulan tuk mencapai 17. Jangankan iri, peduli pun tidak. Buat apa? Toh tak ada pilihan yang patut kupilih.

2009, hak pilih sudah kumiliki. Berangkat ke TPS, membuka surat suara di bilik, lalu dengan mantap menyilang gambar ketiga pasang kandidat. Kugunakan hak ku dengan tuntas. Tak sudi surat suaraku disalahgunakan, meski dia tak akan masuk hitungan.

Lalu ada yang berbeda di 2014. Ada yang mengubahku melalui sebuah konser yang kuhadiri sekedar tuk menikmati musik dari artis-artis yang kusukai. Ada yang berdesir di dalam dadaku ketika sang master of ceremony mendengungkan “Apakah kalian semua siap untuk mendukung orang baik?” Aku terhentak. Pilihan golput yang sempat aku putuskan tiba-tiba goyah oleh satu kalimat.

 IMG-20140606-WA0001 (1)

Perwakilan Serikat PRT Sapu Lidi Jakarta. Mereka menyumbang 'koin untuk Jokowi.' di visi misi Jokowi JK lah tertera perlindungan PRT dan UU Perlindungan PRT. 'Koin untuk Jokowi' juga disumbangkan di wilayah lain seperti Semarang, Jogja, dll, bertepatan dengan tanggal 16 Juni, Hari PRT Internasional

Perwakilan Serikat PRT Sapu Lidi Jakarta. Mereka menyumbang ‘koin untuk Jokowi.’ di visi misi Jokowi JK lah tertera perlindungan PRT dan UU Perlindungan PRT. ‘Koin untuk Jokowi’ juga disumbangkan di wilayah lain seperti Semarang, Jogja, dll, bertepatan dengan tanggal 16 Juni, Hari PRT Internasional

Keputusanku berubah semakin mantap. Tak hanya oleh sang MC dan pengisi acara di konserRock The Vote. Tetapi juga oleh para Pekerja Rumah Tangga yang di 16 Juni menyumbang koin untuk Jokowi. Oleh keluarga korban penculikan 1999 yang berorasi dan berpuisi di aksi kamisan ketiga ratus sekian kali. Oleh para oma korban 65 yang tetap hadir memperjuangkan keadilan. Oleh para tukang becak yang mengayuh becak mereka sejak pagi demi bergabung di Konser 2 jari.

IMG-20140705-WA0012

Rombongan tukang becak yang beriringan menuju GBK.

 

 

 

 

 

 

 

 

Marcus Siahaan keponakan dari Ucok Siahaan salah satu korban penculikan 98, berorasi di aksi Kamisan. Dia bilang: Negara ini bodoh membiarkan seorang pelanggar HAM menjadi capres

Marcus Siahaan (10 tahun) keponakan dari Ucok Siahaan salah satu korban penculikan 98, berorasi di aksi Kamisan. Dia bilang: Negara ini bodoh membiarkan seorang pelanggar HAM menjadi capres

 

Keputusanku juga kuambil melalui visi misi kedua pasang kandidat yang kucoba lumat habis-habisan. Melalui pernyataan demi pernyataan di debat kandidat maupun timses. Melalui kampanye yang kucermati, dokumen yang kupelajari.

perempuan               Buruh Migran

Ya, aku bergabung dengan mereka. Para relawan dan juga reLAWAN. Orang-orang yang membuat aku bangga berIndonesia. Membuatku berpikir lebih tentang Negara.

Mataku yang cengeng terlalu sering menangis. Dia menangis ketika membaca kisah picisan kakak-kaakkku yang kubaca diam-diam di diary mereka. Dia menangis ketika sebuah lagu mengumandangkan lara. Dia menangis marah mendengar tutur seorang korban perkosaan yang kerap disalahkan karena pakaian. Dia menangis geram mendengar seorang perempuan, buruh migran yang diperkosa majikan, malah dituduh zina dan harus melahirkan di penjara. Dia menangis ketika sosok seorang Ibu yang ditemui di luar sana membuncahkan kerinduanku kepada Mama.

Tapi mataku tak pernah menangis karena memikirkan Negara

Tapi pagi ini, mataku kembali menuangkan air mata. Atas emosi yang tercampur melalui berbagai gambar. Gambar wajah-wajah yang bergabung di GBK kemarin. Tua, muda, apapun profesi mereka. Datang dengan kesadaran tanpa bayaran. Tergerak atas kepercayaan akan harapan. Mereka percaya Indonesia berhak mencapai titik terang. Mereka membuatku percaya, mungkin bukan pada Negara, tapi pada kekuatan rakyat, suara rakyat, kehendak rakyat yang melawan.

Gambar itu mereda sejenak, saat mimpi semalam kembali teringat. Peluru, rumah sakit, dan kerinduan pada keluarga. Silahkan terjemahkan dengan bebas jalinan apa yang tengah muncul di dalam tidurku semalam. Dia muncul setelah berbagai kabar mengenai intimidasi. Dari Aceh hingga Timika. Mimpi itu datang setelah kabar kisruh Pemilu kuverifikasi melalui beberapa akun terpercaya, dan sumber langsung.

Untuk pertama kalinya aku menangis memikirkan Negara. Menangis bukan berarti takut, namun hati dan diri sudah harus siap siaga. Seperti yang kutulis di atas, aku bergabung bukan hanya dengan para relawan. Tetapi juga reLAWAN.

10511202_10152538775743258_1339958038626493935_n

Saya memahami bahwa Jokowi pun memiliki banyak sekali kekurangan. Pilihan saya diambil berdasarkan risiko terkecil yang saya coba hitung. Termasuk melihat track record, dan proses kampanye. Saya harap cara-cara mengedepankan dialog dan pelibatan masyarakat yang selama ini tercermin bisa kembali terwujud apabila ia memimpin negeri ini.

saya pilih dia, karena dia tidak sendiri,