Hujan

Hujan
Di bawah rintiknya
Aku kecil menari-nari
Berlari menyambut setiap butirnya yang menerpa wajahku

Hujan
Dia tahu ketika aku remaja jatuh cinta
Apalagi ketika aku patah hati
Dia sembunyikan air mataku
Dengan tetesannya yang lembut menyentuh pipiku

Hujan
Dia pun kini mengajarkanku
Bahwa cinta itu universal
Bahwa cinta itu perjuangan
Ketika hujan mengiringi langkah-langkah kakiku
Mantap menyusuri jalan juang yang kuputuskan

8 Maret 2013
Untuk ketigakalinya aksi diguyur hujan :D

Nyaris Meledak

bomYak! rasanya gw mau meledak. Advokasi Buruh Migran lagi sibuk-sibuknya. Ada konsinyering, kampanye, pemantauan, konferensi pers, aksi. Apalagi hasil DIM pemerintah menyebalkan! energi dateng ke keenam kementerian, bahkan diskusi intens sama 3 kementerian nyatanya cuma berakhr di ‘keranjang sampah.’

UU Dikti ga kalah genting, karena sekarang proses permohonan teman-teman Unand udah sampai mendengarkan keterangan saksi dan ahli terakhir, lalu kesimpulan. Jadi permohonannya KNP harus segera  di submit tanggal 7 Maret ini.

Plus International Women’s Day (IWD), dimana undangan acara bertebaran, lengkap dari pagi sampai dini hari. Belum lagi perispannya dari mulai media relation, sampe nyiapin twitter dan blog buat dilaunching di tanggal yang sama.

Berhadapan dengan kenyataan bahwa bos  akan cabut dalam jangka waktu kurang dari sebulan, yang otomatis harus ada transisi. sementara gw juga harus ke Istanbul dari tanggal 17-25, dan tanggal 25nya langsung raker Komite Aksi Perlindungan pekerja Rumah tangga dan Buruh Migran (KAPPRTBM) sampe tanggal 27 (di puncak). persiapan ke Istanbul pun ga main-main, karena ada beberapa aplikasi yang harus dipraktik-an sebelum ke sana.

Gongnya adalah, nyiapin nikahan temen tanggal 31 Maret, dan gw memegang tanggung jawab yang cukup besar di sana.

Fiuhhhhh, rasanya kalo ngeliat tanggal-tanggal di buku kerja gw penuh tu bikin sesak nafas. Beberapa kegiatan/tugas pun bingung harus disesaki ke kotak yang mana. Nangis, udah, kesel udah, maki-maki udah. Sempet ngerasa jatoh dan sedih banget. Ngerasa butuh support banyak orang, pengen curhat, tapi males curhat ke mana-mana.

Tapi gw percaya, gw pasti bisa!! gw ga butuh banyak orang untuk bangkit. gw ga butuh tergantung sama orang lain buat bisa ngelewatin semuanya.

Susun list kerjaan, bikin to do list per hari, susun prioritas, jalanin satu-satu.

Hirup energi positif, senyum, dan gw siap terbang menembus batas!

pasti Bisa!!

Kehidupan Malam di Siaga II 36

entah kenapa menghabiskan malam hari di kantor itu selalu menyenangkan. Terutama menjelang tengah malam, ketika aku memang memutuskan untuk menginap di kantor.

Seperti malam ini

Sebuah training yang setiap hari dimulai pukul 8 pagi, membuatku memutuskan untuk tidur di kantor. Kehidupan malam di Solidaritas perempuan pun dimulai dengan menonton beberapa video di youtube menggunakan in focus. Lalu seorang kawan memanggil ke bawah karena dia membeli durian untuk dimakan bersama. Pesta durian pun diselingi godaan dan ledekan pada kawan lainnya yang sedang PDKT. berbagai canda bertubi-tubi terlontar bersama serangkaian tawa. tak kalah cetar membahana.

Selesai pesta duren, adalah bagian yang menyenangkan bagiku. Entah kenapa aku selalu suka bermotor menjelang tengah malam. sekedar meminjam baju, mampir ke mini market belanja cemilan dan eskrim, atau seperti malam ini. Ketika di motor curahan hati mulai terurai, maka niat ingin langsung kembali ke kantor setelah mengambil baju malah berbelok. tiba-tiba aku dan kawanku menuju Sevel, duduk di sana, dan berbagi cerita. tentang pernyataan cinta yang tak bersambut, juga tentang rasa penasaran yang membuncah namun tak juga sanggup mengungkapkan perasaan. Ah, yang kedua lebih menyebalkan dari pada yang pertama.

puas bercerita dan serangan kantuk membuat kami beranjak. kembali bermotor menikmati angin malam seraya bersenandung. malam ini lagu kami:

You and I, we’re like diamonds in the sky

Hingga detik ini, tiga laptop masih terbuka. entah bekerja, menonton film, atau menulis blog. kami masih bersama, mendengarkan musik, seraya sesekali bercerita. bocoran lainnya, ada yang sedang menanti mantan gebetan bawain oleh-oleh. Selarut ini, ke kantor kami :D

Selamat malam, dari Siaga II No. 36 :)

‘Kencan’ Hemat Bersama Kirana

Hang out bareng Kirana bermula ketika dia curhat ke aku. Dia tengah kecewa karena teman-teman sekolahnya membatalkan janji untuk nonton bareng 5 cm yang sudah direncanakan sejak jauh-jauh hari. Jadilah aku mengajaknya nonton, dan akan menemaninya, meski sebenarnya aku sudah menonton film tersebut. Namun, hang out kami kali ini agak berbeda dari biasanya. Perbedaannya adalah, kalau biasanya hanya aku yang keluar duit, kali ini aku minta berhemat. Karena memang bulan ini aku harus memperketat pengeluaran.

Jadilah,,

Kami berangkat ke mall dengan berjalan kaki. Jarak dari rumahku ke mall itu memang tidak terlalu jauh sih, mungkin sekitar 250 meter. Maka kami berdua berjalan santai sambil mengobrol. Butuh waktu sekitar 15 menit untuk sampai di mall.

Sesampainya di mall, kami langsung ke bioskop, dan membeli tiket. Kirana membayar sendiri tiket bioskopnya. Dari awal bayar sendiri-sendiri sudah menjadi perjanjian kami. Karena sebenarnya Kirana pun sudah merencanakan untuk menonton film tersebut. Sehingga, logikanya dia sudah menyiapkan dana untuk membeli tiket.

Karena film yang akan ditonton masih lama, jadilah kami berkeliling dahulu. Kalau biasanya, pasti ada yang dibeli, atau setidaknya kami akan mencari tempat makan untuk menunggu jam tayang. Kami keliling ke beberapa toko, tanpa membeli apapun. Hanya saja sempat ‘mampir’ ke foto box, karena memang aku sudah meniatkan untuk foto box bareng Kirana sejak sebelum berangkat.

IMG03918-20121229-2104edit

Setelah foto box, kami menikmati eskrim, seharga Rp2.500,00. lalu kami kehausan. Di dekat tempat memberi eskrim, ada yang menjual minuman dingin. Kami bersepakat untuk membeli air mineral. Bandrol yang dipasang untuk air mineral gelas Rp1000. Sementara air mineral botol kecil (bukan yang 600 ml), dibandrol dengan harga Rp2000. Akhirnya kami memutuskan untuk membeli air mineral di toko swalayan, agar lebih murah. Kami menghabiskan 1 botol 600ml, dan 1 botol yang kecil, sebelum masuk ke studio bioskop.

IMG03916-20121229-1609edit

Selesai menonton, sudah masuk jam makan malam. Kamipun kelaparan. Namun kami sempat ke sebuah toko, dan membeli dua buah gelang yang sama. Satu untukku, satu untuk Kirana. Gelang tersebut masing-masing berharga Rp3000.

IMG03922-20121229-2110

Karena lapar, kami memutuskan untuk makan malam sebelum pulang. Namun tidak di dalam mall, supaya bisa lebih murah. Akhirnya kami ke warung padang yang berada di terminal dekat mall tersebut. Kami berbagi sepiring nasi, dan dua buah lauk. Pilihan minum kami? Tentu saja air putih.

Setelah menyantap nasi padang kamipun pulang. Lagi-lagi dengan berjalan kaki. Sambil pulang kami mendiskusikan tentang banyak hal. Tentang film yang kami tonton, tentang band yang sedang manggung di lapangan dekat rumahku, dan banyak hal lainnya.

Di tengah jalan Kirana berkata, “Wah Cha, kita malam mingguan bareng.” Haha.

What If

Seperti yang sering aku katakan, aku adalah seorang pemimpi. Impianku banyak, dan teramat indah. Hingga aku takkan pernah rela melepaskan mimpi-mimpiku begitu saja, tak pernah rela apabila mereka terlewatkan, tidak tercapai, tanpa upaya.

Tapi tiba-tiba aku berpikir,
Bagaimana jika Tuhan menakdirkan langkahku tak sampai pada mimpi-mimpi itu?
Bagaimana jika aku meninggal dalam waktu dekat?
Bagaimana jika tangan, kaki, mata, tubuh ini tiba-tiba tak dapat berfungsi?
Dan bagaimana jika akalku lenyap entah kemana?

Atau bagaimana jika aku ditakdirkan untuk tidak berpasangan,
Hingga tak bisa memiliki buah hati?

Lalu aku menatap Arsa, bayi kecil yang tengah tertidur di pelukanku. Sekejap kukecup pipinya yang ‘penuh’. Tangannya mencengkeram kain blouse ku, seakan tak mau terpisah dari pelukanku.

Tuhan telah begitu baik mempertemukanku dengan Arsa, si kembar Dylan-Derryl, Muthia, Raditya, Tristan, dan Kirana.

Dan selama lebih dari 25 tahun sudah, aku menghirup udara, merasakan detak jantung, yang menandakan aku hidup.

Lebih dari 25 tahun aku memiliki tubuh yang ‘sempurna.’ Tak indah memang. Tapi kaki ini, tangan ini, mata ini, telah berbuat sedemikian rupa, meraih berbagai keindahan.

Lebih dari 25 tahun juga kugunakan akalku. Untuk berpikir, untuk bernalar, & memerintahkan tubuhku bertindak. Hingga tahap demi tahap kukerjakan hingga mencapai keberhasilan.

Maka tugasku sekarang hanyalah berbuat. Berbuat dengan segala yang diititipkan-Nya padaku. Berbuat sampai waktu yang ditetapkan-Nya untukku..

Bekasi, 29 Desember 2012, 22.56

Mewujudkan Impian Pernikahan

Dari kecil, aku tu suka banget sama hal-hal yang berhubungan dengan pesta. Dari mulai bikin kartu ucapan selamat ulang tahun sendiri, bikin beberapa dekorasi buat nikahan kakak, atau hal-hal detil seperti menghias sepeda ponakan buat 17an, sampai tampil di depan buat mimpin permainan.

Sementara, sudah dari dulu juga aku punya bayangan ideal tentang pernikahanku. Ketika aku masih sangat jarang menjumpai pesta outdoor, aku sudah membayangkan, resepsiku nanti akan diselenggarakan di luar ruangan. Dengan kolam di mana lilin-lilin mengapung, tanpa pelaminan, karena aku ingin mingle, sekeliling taman dipasangi balon gas, yang nantinya akan diterbangkan bersama doa para tamu, dan rombongan gerobak tukang jualan yang hari itu khusus melayani tamu-tamu resepsiku. Tak hanya itu, konsep lain pun sudah sangat matang, kostum, ucapan terima kasih, konsep buku tamu, bahkan alur acara.

Namun, walalupun aku sangat antusias memikirkan resepsiku, aku sepenuhnya sadar. Bahwa yang membuat aku antusias adalah pesta itu sendiri, dan sama sekali bukan relasi penuh komitmen bertajuk pernikahan, dengan segala kewajiban dan tanggung jawabnya. Itulh kenapa sampai saat ini gambaran tentang resepsikupun masih berupa impian, yang belum terealisasikan.

Lalu konsep outdoor menjadi begitu banyak digunakan belakangan. Perlahan, impianku tentang sebuah resepsipun bisa terwujud. Bukan untuk resepsiku memang, tapi untuk orang-orang terdekatku.

wedding @ taman bunga wiladatika

wedding @ taman bunga wiladatika

Dimulai dari seorang kawan sekantor yang menggelar resepsinya di Taman Wiladatika Cibubur,

the wedding organizer :D

the wedding organizer :D

lalu diikuti dengan resepsi kakaku sendiri di Bukit Berani Puncak.

keluarga besar L-Kers

my sister’s wedding ( @ Bukit Berani, Puncak)

Dan dalam tiga bulan ini, aku diminta oleh seorang kawan untuk menjadi project officer resepsi perkawinanya yang akan diselenggarakan di sebuah tempat pemancingan di Cinere.

Sudah tentu saat ini aku mulai mengerjakan acara tersebut. Dari mulai survey tempat, menghubungi band, test food, dan lain-lain. Untungnya kedua calon mempelai juga ikut aktif menentukan konsep, tempat, dan segala keperluan lainnya sendiri. Jadi aku lebih seperti teman diskusi, dan mengurus beberapa teknis keperluan pernikahan mereka, dengan berbagi tugas ebersama kedua calon mempelai. Tak hanya itu, aku juga diberi ruang untuk menentukan orang-orang yang akan membantuku.

Ketika survey tempat beberapa hari yang lalu, aku jadi membayangkan, seandainya acara ini sukses, maka aku akan mendapat banyak foto keren, dan review bagus. Mungkin saja bisa menjadi ‘modal’ untuk mengisi company profile dan website ku kelak. Well, being a wedding/party organizer sounds fit for me. Lagipula, aku jadi bisa mewujudkan impian-impian seruku, meskipun melalui pesta orang lain. Hidup Pesta!

dreams

Sindrom Seperempat Abad

Setelah tertunda lebih dari seminggu, akhirnya kesampaian juga mengabadikan momen menjelang 25 tahunku ini melalui tulisan. Jadi, sebulan yang lalu sempat kepikiran juga soal hidup. Soal lifeplan, capaian, dan yang terutama langkah-langkah ke depan. Karena itu, aku merencanakan ‘perayaan’ ulang tahunku yang jatuh pada tanggal 22 November dengan cara yang istimewa. Aku ingin melewati malam pergantian usiaku sendirian, di luar rumah, di bawah bintang. Supaya aku bisa berdiskusi dengan diriku sendiri, bertanya apa maunya, bagaimana mewujudkan si mau, dan komitmen-komitmen apa yang perlu dilakukan atau diperbarui. Akhirnya, rencana memang tak sepenuhnya menjadi kenyataan. Beginilah perayaan seperempat abadku dilakukan:

Pengantar

21 November setelah lewat tengah hari

Pukul 13.30 aku melangkahkan kaki ke luar rumah. Rencananya hari itu akan memoderatori launching sebuah buku bertajuk Hari-hari Salamander yang ditulis oleh sepuluh orang perempuan dan diterbitkan secara independen. Namun sebelumnya aku terpaksa mampir ke mall di dekat rumah, karena keypad BBku ngambek, huruf a nya tidak mau keluar. Seraya menunggu BBku dibongkar, aku pun iseng-iseng menato sementara punggung tangan kiriku. Setelah memilih beberapa gambar, aku sempat mempertimbangkan gambar tinker bell, tapi akhirnya aku memilih kalajengking, yang menjadi lambang zodiakku. Tato kalajengking, kuanggap itu kado pertama untuk diriku, meski terlalu awal.

tato

Selesai dengan tato, aku mampir ke Toko Buku. Sayangnya waktuku sempit. Aku hanya hendak membeli sebuah buku tulis untuk kugunakan malam nanti. Saat itu dalam hati, aku masih berharap akan menjalankan rencanaku untuk merayakan ulang tahunku yang ke 25. Terpaksa aku menahan diriku dari buku-buku yang terpajang menggiurkan.

buku coklat

Kedai Tjikini, 15.50

Sampai di Kedai Tjikini bertemu dengan beberapa aktivis perempuan, dan berdiskusi dengan mereka sebelum acara launching dimulai. Sayangnya acara baru dimulai sekitar pukul 17.30 (jadwalnya 17.00) lantaran narasumber terhalang oleh kondisi jalan yang macet. Namun launching dan diskusi berlangsung sangat seru. Hari-hari Salamander menunjukan betapa kisah perempuan, seringkali sederhana, atau kadang kala sangat detil dan rumit. Namun pengalaman perempuan sangatlah kaya, dan mendokumentasikannya ke dalam buku bisa jadi cara yang efektif untuk memperjuangkan hak-hak perempuan.

Bersama penulis, tim penerbit, dan narasumber Hari-Hari Salamander

Bersama penulis, tim penerbit, dan narasumber Hari-Hari Salamander

Usai acara, aku masih terlibat diskusi dengan beberapa orang kawan. Temanya macam-macam, dari aborsi sampai Pekerja Rumah Tangga. Puas berdiskusi, kemudian seorang kawan yang membawa kendaraan menanyakan tujuanku selanjutnya, seraya menawarkan tumpangan Akupun teringat, aku belum memutuskan akan kemana. Bimbang, sore hari hujan turun dengan deras. Tak ada bintang di langit. Tempat yang tadinya hendak kutuju pun pasti basah kuyup. Namun di sisi lain, rasanya sayang menggagalkan rencanaku.

Tanpa pikir panjang, akhirnya aku meminta temanku mengantarkanku ke sebuah tempat. Bukan tempat yang kurencakan sebelumnya, tapi aku harap tetap tak mengurangi ‘perayaan’ seperempat abadku.

Menjelang Seperempat Abad

Diringkas dari catatan di buku coklat baruku

20.10

Aku mulai membuka buku baruku. Di sebuah warung, memesan minuman hangat. HPku sudah kumatikan, agar aku benar-benar sendirian, tidak ada yang menganggu, baik di dunia nyata, ataupun di dunia maya. Aku pun menulis apa saja yang bisa kutulis, toh hal tersulit adalah memulai. Namun begitu sudah dimulai, jariku seakan tak mau berhenti bergerak mengisi buku baruku. Sayang, aku mendapatkan kabar buruk. Tempat itu akan segera tutup artinya, aku harus mencari tempat lainnya, segera.

20.33

Akhirnya aku mendapat tempat yang cukup terang, dekat bioskop, dan lumayan berisik sebenarnya. Karena tidak jauh dari tempatku duduk, ada dua sanggar berbeda yang sedang latihan. Keramaian itu justru bagus karena aku jadi merasa aman. Lagipula, kadang kesepian di tengah keramaian tu jauh lebih syahdu.

Well, melihat anak-anak ini menyanyi dan menari, kelihatan kalau mereka menikmati apa yang mereka lakukan. Coba dari kecil aku begitu. Mampu mengidentifikasikan diriku sendiri, mauku apa, apa yang aku suka, dan apa yang aku inginkan dalam hidup. Ah, tapi tidak ada kata terlambat kok, apalagi untuk mencapai kebahagiaan. Untuk itu juga kan aku ada di sini, buat ngobrol sama diri sendiri, dan untuk bisa benar-benar memahami harapan dan keinginan diri sendiri.

“Kita senasib sepenanggungan terhimpit dalam ……… zaman. Bergantung pada masa depan. Sebab di sana ada harapan”

(lirik lagu yang dinyanyikan sambil menari oleh anak-anak yang sedang berlatih)

21.00

Latihan menari dan menyanyi yang ada di dekat tempatku duduk sudah selesai. Mereka pun berangsur pulang. Mayoritas mereka dijemput oleh orang tua atau anggota keluarga yang lain. Aku menggeser duduku ke tempat yang lebih tersembunyi. Namun tetap cukup terang untuk menulis, dan dalam jarak 100 meter masih terlihat orang lain. Aku harap kafe di depan bioskop ini buka 24 jam, sehingga aku bisa tetap ‘aman’ di sini.

Tanganku terus menggoreskan pulpen ke kertas. Mulai menyusun impian-impian yang aku simpan. Ada yang aku coret, ada yang tetap kuputuskan untuk menjadi impian. Tahun-tahun mulai mengisi masing-masing impian. Beberapa target sudah ditetapkan.

21. 33

Ternyata kafe 21 itu tidak buka 24 jam. Petugasnya mulai merapihkan beberapa kursi, suasanapun mulai sepi. Mungkin paling lambat pk 22.00 aku sudah harus hengkang. Namun tampaknya resolusiku pun tak lama lagi akan rampung. Maka aku terus menulis dan menulis.

Setelah lima belas halaman yang terdiri dari brainstorming dan RTL (Rencana Tindak Lanjut), akhirnya aku selesai. Termasuk di dalamnya komitmen-komitmen jangka pendek, terkait keuangan, pola hidup, target membaca, menulis, dan lain-lain. Aku selesai, semua sudah diputuskan.  Aku memutuskan meninggalkan tempatku menumpahkan segala pemikiran dan berdiskusi dengan diriku sendiri. Namun waktu masih jauh dari pergantian umurku. Kuputuskan untuk berjalan, kemanapun, sesuai kaki ini berkehendak.

Taman Ismail Marzuki, 21 November 2012, 22.10 WIB

—II—

Kakiku sudah terasa pegal, bahkan merasa hampir kram. Entah sudah berapa lama waktu kulalui seraya berjalan kaki. Namun aku tetap melangkah, dengan tekad melewatkan pergantian usia sendirian, di luar rumah. Sejak kapan momen pertambahan umur menjadi sesentimentil ini? entahlah.

22.48

Entah kenapa, kakiku berbelok ke tempat ini. setelah berjalankaki dari TIM hampir 40 menit aku memutuskan untuk singgah. Tempat di mana orang-orang tidur bergelimpangan. Hanya beralas tikar, berselimut kain sarung, beralaskan seperi kanopi berbahan triplex yang setengah terbuka. Pembicaraan di sini seputar angka. Angka puluhan ribu rupiah yang keluar setiap hari, yang tak cukup untuk mendapatkan tempat singgah yang layak sekedar untuk beristirahat. Sehingga di sinilah mereka, berusaha tidur di tengah udara dingin dan nasib yang tidak menentu.

22 November  2012, 00.00 WIB

Selamat ulang tahun Nisaa. Akhirnya sampai ke usia 25. Aku melewatkan seperempat abadku seraya membaca sebuah buku, diiringi berbagai cerita yang kebanyakan sendu. Aku menyongsong seperempat abadku bersama cerita seorang ibu yang kerabatnya mengalami kecelakaan. Sang kerabat tidak memiliki jaminan sosial, dengan gaji tidak mencapai UMR sebagai satpam di sebuah yayasan. Sesekali aku mendengar Ibu dan Bapak lainnya, mengabarkan pada kawan di sebelahnya bahwa kerabat mereka belum mendapatkan kamar. Penuh kerap menjadi alasan.

Akupun memutuskan untuk beranjak pulang. Setelah ‘merayakan’ ulang tahunku sendirian, rencananya pukul 10.00 aku akan ‘merayakan’ ulang tahunku bersama puluhan ribu buruh. Maka aku harus beristirahat, agar kondisi kesehatanku pun optimal. Namun sebelumnya aku mampir ke kamar kecil, yang letaknya agak jauh. Mengejutkan, karena ternyata ada lebih banyak lagi orang yang tidur bergelimpangan beralaskan tikar. Di sepanjang lorong yang kulewati, selalu penuh dengan perempuan/laki-laki, tua/muda yang mengisi lantai. Sebagian menggunakan tikar, namun tak sedikit yang menggunakan koran. Ah, Indonesiaku jika pendidikan, rumah, dan kesehatan menjadi begitu sulit untuk diakses, maka apa fungsimu wahai negaraku?

RSCM, 22 November 2012, 00.46

Catatan Tambahan: ulang tahunku kali ini juga menjadi sangat istimewa, itulah pertama kalinya aku berorasi di hadapan ribuan buruh, merasakan semangat dan solidaritas mereka. Merasakan gema dasyat ketika suara mereka mengikuti ucapanku

Hidup Buruh

Hidup Buruh Migran

Hidup Pekerja Rumah Tangga

Hidup Perempuan

merayakan ulang tahun dengan ribuan buruh

merayakan ulang tahun dengan ribuan buruh

 

Berdamai dengan Diabetes

Yak, sejak menjelang akhir ramadhan kemarin aku terdeteksi bergula tinggi aka diabetes. Rada shock si, karena angkanya langsung tingi, yang ngelewatin batas harus minum obat gitu. Tapi ga terlalu heran juga, karena Mama Papa juga diabetes, jadi risiko aku kena emang sudah terprediksi.

Tapi yang paling bikin sedih adalah aku ga bisa lagi donor darah (menatap nanar ke kartu donor) :( . Terus yang kedua bikin sedih adalah harus say good bye sama cake-cake manis nan membuat hati bahagia itu. Tapi seenggaknya masih bisa makan cheesecake lah, walau krimnya manisnya itu kudu disingkirin.

Nah yang ga asik dari diabetes itu, kita ga boleh stress. Nyebelin ga tu? Udah ga boleh stress, ga boleh makan coklat yang bisa bantuin kita biar ga stress pula. Ck..ck.. Awalnya sempet stress juga si, mikirin nanti gimana kalo hamil, dll. Tapi tugas kita dalam hidup kan buat ngejalanin apa yang ada sekarang sebaik-baiknya. Bukan malah ketakutan sama hal-hal yang belom kejadian.

Udah gitu, diabetes jadi ga asik ketika dia ketemu sama maag. Beberapa makanan yang bagus buat diabetes, let say kol, itu bahaya buat maag. Begitu tau diabetes kan aku langsung coba diet, salah satunya menghindari nasi. Harapannya, jaga pola makan bisa nurunin gula darahnya, jadi ga harus pake obat. Kasihan ginjal soalnya. Cuma selama ini kan aku sukaaa banget sama makanan pedes. Jadilah, masak kentang dipedesin, atau masak menu-menu balado lainnya, tanpa makan nasi. Akhirnya, maagku kena donk. Pas hari Selasa kemaren perut mulai berasa melilit, malamnya ga bisa tidur lantaran bolak balik ke balakang berkali-kali (sepenghitunganku si sekitar 8-10 kali). Jadinya Rabu ga ke kantor karena masih bolak balik ke belakang, plus lemes karena kurang cairan juga.

Itu baru soal makanan. Soal lain lagi adalah, aku jadi parno sama benda-benda tajam. Jadi kan orang yang diabetes itu lukanya relatif lebih lama sembuh dibandingin yang ga diabetes. Jadi tiap luka dikit aku langsung panik. Satu hari aku lagi ngupasin belimbing buat Papa. Terus tanganku ketancep piso, kecil si, tapi agak dalem. Jadilah aku super panik. Untung lagi ada Mbak Rie di rumah, nanya harus gimana.

Mbak Rie ngasih petunjuk, dan bilang jangan panik. Masalahnya, dari kecil, aku ga bisa liat darah sendiri. Aku tu sering pingsan kalo  berdarah, walaupun ga banyak. tapi biasanya si pingsannya ga lama. Jadilah saat itu situasinya begini:

Mbak Rie: udah, dicuci, terus ambil es batu, ditaro di lukanya. Lo kenapa panic si?

Aku: nanti gw pingsan nii.

Mbak Rie: udah duduk sana

Aku: (berhasil meraih es batu, kemudian pusing, langsung duduk, dan pingsan).

Ga lama mbak RIe keluar nyamperin, bilang, “Kok es batunya ga dipegang.” Aku yang baru sadar jawab, “gimana mau megang, wong tadi pingsan.”

Dan sejak kejadian itu, aku makin parno sama benda tajam. Ga separah ga mau megang benda tajam lagi si, tapi menghindari dan super hati-hati. Kayak semalem pas Muthia mecahin gelas, aku mungutinnya lama banget, saking hati-hatinya. Soalnya takut luka, dan sembuhnya lama.

Tapi gimana pun ada hikmahnya juga sih, hehe. Tiap pagi jadi keluar jalan sama Mama deh. Udah gitu sering mampir pasar, beli sayuran buat aku masak, dan sarapan buat Papa. Selain itu, aku juga jadinya tes kolesterol dan asam urat, dan Alhamdulillah, dua-duanya rendah.. :D

Yah, meski masih sebel sama si diabetes, tapi gimana pun harus diatasi kan. Pola makan sehat, dan hidup teratur, termasuk olah raga teratur harus mulai dibiasakan sejak sekarang. Aku juga ga bisa drastis si, ni juga masih belajar.

Buat teman-teman, baiknya kita periksa kesehatan rutin yuk. Seorang kawan bilang, dia takut periksa karena takut diabetes, malah jadi stress, gulanya malah jadi tinggi. tapi si kalo menurut aku, risiko itu ada buat dicegah, dan ketika dia benar-benar sudah ada, ya biar bisa diatasi kan? :)

Filosofi Puzzle

Kepikiran nulis ini setelah berdiskusi sama seorang kawan terkait film Perahu Kertas

Seringkali Mama membahas tentang nikah. Ya wajar lah ya, sebagai orang tua dengan lima anak (empat anak perempuan dan satu laki-laki), tentunya Mama ingin anak-anaknya segera menemukan jodoh yang baik. Apalagi, akhirnya lengkaplah sudah keempat kakakku telah memilih pasangan hidup mereka masing-masing, membangun sebuah keluarga, dan memberikan Mama cucu-cucu yang hebat. Biasanya percakapan Mama dan aku seperti ini:

Mama: kamu nikah gih sana. Seumur kamu mama udah punya anak dua.

Aku: Mau nikah sama siapa Ma? Pacar aja ga punya.

Mama: Ya kamu si terlalu pemilih.

Aku: (Dalam hati: Lah, punya pilihan aja nggak)

Nah, biasanya perbincangan lalu berlanjut ke pertanyaan Mama, emang nyari cowok yang kayak gimana si? Biasanya si aku jawab dengan gaya mengkhayal gitu. Mata bersinar, senyum mengembang lebar, dan pipi bersemu-semu merah. Jawabnya juga semangat: “Aku tu nyari potongan puzzle yang bisa klik sama aku.” Nah sampe situ, Mama malah BT, kelihatan males ngedengerin gitu. Padahal aku punya penjelasannya lho. Berhubung Mama ga mau denger, aku tulis di sini aja ya.

Bayangin deh sebuah puzzle lengkap. Puzzle itu kan terdiri dari kepingan-kepingan puzzle tuh. Bentuknya macem-macem, malah kebanyakan si setahuku bentuknya ga ada yang sama. Makanya, meski bentuknya kelihatan cocok, tapi kalo ternyata kepingan puzzle yang kita gabungin salah, pasti akan ketahuan. Dua keping puzzle yang ga cocok itu, ga akan terpasang dengan rapat. Ga akan mengikat satu sama lain. Tapi kalau kepingan itu cocok pasti langsung ‘klik’ rapet, dan mengikat satu sama lain.

Nah itu tu yang aku cari. Bukan orang yang mirip apalagi sama seperti aku. Profesi kami bisa berbeda. Selera music, selera film, hobi, sifat, ga musti sama. Tapi perbedaan yang kami miliki bisa membuat kami lengkap satu sama lain. Rasanya tu ‘klik’ gitu. Bisa saling bertemu di sepanjang sisi yang nempel, dan jadinya rapet. Orang yang membuat aku merasa lengkap, merasa utuh, yang bersama dia, aku ga harus menambah atau mengurangi apa yang ada di dalam diri kita.

Dua Keping Puzzle kan ga akan bikin sebuah puzzle lengkap?

Yup, karena di dalam hidup ini, kita kan ga Cuma berdua. Tapi gimana dengan kami berdua, kami bisa berkontribusi bersama banyak orang lainnya, supaya hidup itu lengkap. Gimana kami merumuskan konsep masing-masing kami sebagai pribadi, lalu konsep kami dalam sebuah relasi antar kami, dan juga konsep kami di dalam masyarakat. Supaya akhirnya, setiap relasi yang ada di setiap sisi puzzle, bisa secara tepat berhubungan, dan akhirnya menciptakan sebuah gambaran yang utuh tentang hidup yang kita inginkan. Tentang impian, tentang keberpihakan, tentang kebahagiaan.

Kenapa Harus Beda?

Pertama karena manusia emang ga pernah sama si, haha. Tapi yang terpenting sebenarnya adalah selama ini kita terlalu takut akan perbedaan. Padahal perbedaan itu adalah kekayaan. Dan aku pengen hidup itu kaya. Bukan kaya dalam arti ‘sekedar’ materi. Tapi kaya makna. Eh, tapi memang si, ada hal-hal prinsip yang harusnya tetap sama. Visi hidup yang sama, nilai yang dipercaya yang sama-sama diperjuangkan, ya, hal-hal yang kesannya absurd tapi mau ga mau selalu jadi dasar dari setiap tindakan kita lah. Makanya, kepingan puzzle yang aku cari, tentunya berasal dari puzzle yang sama. Jadi kepingan demi kepingan yang tersusun itu, yang isinya ga Cuma kami berdua, tapi juga banyak pihak-pihak ‘seperjuangan’ lainnnya kelak akan membentuk sebuah gambaran utuh, yaitu visi kita bersama.

Selain itu, masih dengan membayangkan puzzle, coba deh bayangin apa jadinya kalau dua keping yang bentuknya sama persis disatuin. Kemungkinannya ada dua. Pertama kalau puzzlenya jenis yang bentuknya bergelombang ga beraturan, jelas kedua keping yang sama itu ga akan bisa nyatu.

Atau kedua ini yang bisa menipu. Kan ada puzzle yang bentuknya ga bergelombang tu, jadi Cuma kayak sebuah puzzle yang dipotong-potong miring jadi bentuknya kayak kotak, trapesium, atau bentuk bidang lainnya. Nah misalnya kalo bentuknya sama-sama kotak. Ketika disatuin emang kelihatannya cocok tuh. Sisi yang satu secara sempurna nempel ke sisi yang lain. Tapi coba deh puzzle nya dibalik. Kedua keping itu, ga mengikat satu sama lain, jadinya gampang deh terlepas satu sama lain.

Haha, filosofinya rada maksa ya, soalnya tiba-tiba aku jadi ngebayangin, terus kalo jenis puzzle yang ga bergelombang itu, meski bentuknya beda tetep sama-sama ga ngiket donk? Iya sih ya. Tapi ya intinya gitu deh. Kenapa aku memasukan soal kotak sama kotak itu, karena kadang-kadang orang tu bilang kita cocok sama orang lain, dengan nyama-nyamain kita dengan orang yang dibilang cocok itu. Dari soal fisik, kegemaran, selera musik/film, profesi, sampe topik isu yang lagi difokusin. Padahal sama tu ga asik, justru ga bisa saling melengkapi dong.

Hmm, mungkin lebih gampang kalau aku pake analogi cerita di perahu kertas ya. Kan di atas aku bilang tuh kalau aku nulis ini karena abis diskusi sama seorang kawan soal Perahu Kertas. Nah lihat Kugy sama Keenan. Ga usah ngomongin perbedaan fisik, sifat, dll kali ya. Sederhana aja.

Kugy mau jadi pendongeng. Keenan impiannya melukis. Pendongeng sama pelukis kan jelas beda. Tapi impian mereka jadi utuh, ketika mereka berkolaborasi lewat dongengnya Kugy, dan ilustrasi dari Keenan.

Karena bersama kamu, aku tidak takut lagi jadi pemimpi

-Kugy to Keenan