Tentangku

Ingatkah ketika kita berjalan beriringan. Berpapasan dengan rintik hujan yang masih tersisa. Bermain menarik dahan pohon hingga basah menyiram tubuh kita

Kamu, aku, mereka, kita.

Senyummu ketika itu adalah senyum yang terus kukenal hingga tiga bulan kemarin. Setia menyapa hari, menghampiri, mendekap langkahku agar terus menyertaimu

Meski ku tak pernah tahu kemana kaki ini kan kau bawa melangkah

Kita tak lagi kita

Akupun memilih tuk tak kecewa. Meski terlalu banyak kenangan tertinggal. Kamu tahu? Hampir setiap menit kulewati dengan adegan demi adegan yang pernah terjadi selama 12 tahun ini. Adegan yang bahkan sebelumnya tak pernah kuingat. Tiba-tiba mereka menyeruak.

Aku memilih tuk tak kecewa, tak mendendam, apalagi mengungkapkan amarah.

Karena ini bukan tentang kamu, bukan tentang dia, bukan tentang kalian

Ini pun bukan tentang kita

Ini tentangku. Dengan sejuta perasaan yang terus kupendam. Dengan harapan yang hanya berani kugantungkan setingi bintang tanpa kukejar

Ini tentangku

Ini tentangku

10 Tahun

Suatu hari dia bercerita. Ibunya sudah 10 tahun tak ada berita. Bahkan paras sang Ibu hanya bayangan semu hasil ingatan yang tak terang saat terakhir bertemu di usianya yang masih enam tahun. Sejenak kuperhatikan matanya menerawang. Pikirannya melayang seraya bertutur pelan.

“Dulu Ibu ikut ke Malaysia sama tetangga. Bilang mau cari uang, untuk aku sekolah tahun depan. Janji cepat pulang supaya bisa menemaniku beli seragam. Kata Ibu, aku boleh pilih tas gambar apapun yang kusuka.”

Itu dulu. Ketika usianya enam. Sekarang usianya sudah 16. Dia masih menunggu, meski suara Ibunya tak lagi pernah dia dengar sejak beberapa bulan pasca keberangkatan sang Ibu.

“Ibu sempat telepon. Sekali. Tiga bulan setelah Ibu pergi. Katanya Ibu sudah sampai ke perkebunan tempat dia akan bekerja. Ibu janji. Akan telepon paling tidak sebulan sekali. Tapi nyatanya, habis itu tak pernah lagi.”

Satu kali saja Ibunya menelepon, lalu hilang sampai sepuluh tahun. Sang Ibu tidak menemani dia membeli seragam pertamanya, ketika akhirnya dia bisa bersekolah SD kelas 1, meski di usianya yang ke 9. Dia tidak jadi memilih tas baru bergambar robot favoritnya. Dia cukup tersenyum puas mendapat sumbangan tas bekas dari yayasan di dekat rumah. Tidak ada genggaman tangan atau pelukan hangat yang menenangkan. Ketika dia melangkah gugup melewati gerbang sekolah barunya.

“Sampai sekarang kalau dengar dering telepon, rasanya deg-degan. Berharap suara Ibu yang akan aku dengar.”

Lalu dia tersenyum. Sejenak saja. Ternyata masih ada harapan yang dia gantungkan. Masih ada impian tuk menjalani kembali kenangan bersama Ibunya. Meski kenangan itu saja begitu samar. Begitu singkat. Tapi dia tetap berharap

Konversasi

Hai dunia,
Hidup berjalan seperti biasa. Matahari terbit dari timur, satu mingu tetap hanya berisi tujuh hari, dan presiden baru kami tentu saja belum memperlihatkan perubahan di masa kerjanya yang baru seujung kuku ini.

Hidup berjalan seperti biasa. Dengan tumpukan pekerjaan yang menagih untuk dikerjakan. Dengan to do list yang selalu bberhasil kucoret namun daftarnya tetap terus bertambah. Dengan rutinitas menyenangkan namun terlalu biasa. Penuh tawa dan canda, namun hanya menghadirkan senyum yang biasa. Itu-itu saja.

Hidup berjalan seperti biasa. Dengan perdebatan yang memang dirancang untuk tidak berujung. Dengan harapan yang terus ditumbuhkan setinggi bintang, namun tak dirangcang untuk dicapai karena berjuta alasan.

Aku hanya bagian teramat kecil dari bumi yang katanya terus berotasi ini. Bumi yang semakin tua, sakit-sakitan, dan entah sampai kapan mampu mempertahankan kekuatan. Bumi yang jika aku ajak bicara, lalu bercerita panjang lebar. Tentang seorang ibu yang setiap pagi pergi ke hutan mencari kayu bakar. Tentang seorang anak berusia 6 tahun yang menjaga adiknya dalam kelelapan. Sementara di tanah lainnya, seorang penjahat berdasi sedang menandatangani seuah kertas berisi jutaan hektar tanah akan ditelan. Beribu keluarga yang akan tergusur, ratusan pemudi pemuda yang kehilangan lahan untuk digarap

Aku bagian teramat kecil dari dunia yang tengah berjalan. Dari Kamu, Anda, Kalian yang sibuk menikmati indahnya dunia, dengan atau tanpa menutup mata dari fakta yang telah terpapar. Karena dunia selalu menawarkan sisi manis untuk dikecap. Mampukah aku, mampukah Anda mengecapnya? Ah, aku tidak sedang bertanya pada Anda sebenarnya. Tapi kepadaku sendiri. Kepada sebutir debu yang paling tidak diperhitungkan, yang memang tak pernah meminta untuk perhitungan.

Kadang aku lelah dengan percakapan ini. Percakapan tanpa akhir, tak berujung, karena debat yang dibuat memang tidak untuk diselesaikan, termasuk mendebat diri sendiri. Namun dari sanalah aku tahu aku hidup. Dari sanalah aku tahu bahwa aku berpikir, bahwa aku masih menjalankan fungsiku sebagai manusia. Berpikir, bernalar, bertindak.

….

Aku mengecewakannya.

Lagi dan lagi, tak henti-henti kutubi dia dengan kecewa

Saat kakinya akan melangkah menuju perjuangan yang ingin ia raih

Egoku terus melawan meskin hatiku terasa perih, kembali harus berhadapan dengan kecewanya

Dia marah. Aku tahu, tanpa pun dia beri tahu. Tapi dia pun tegas berkata begitu

Aku dengar gemetar suaranya yang disampaikan kabel entah berapa ratus meter

Aku rasakan amarahnya meski wajahnya tak Nampak di hadapanku

Sesal tentu datang

Seharusnya tak kuucap langsung kata tidak itu,

Biarkan surga telinga kucipta, meski kubuat untuk nantinya kuruntuhkan sendiri

Ah percuma saja

Toh ujung-ujungnya aku hanya bisa membuanya kecewa

Ketika benar baginya bukan benar bagiku

Ketika dia ingin aku bahagia, tapi dengan cara yang dia tidak tahu itu akan membuatku tidak bahagia

Mungkin dia berharap aku kembali kecil

Hidup di dalam dunia mungil, di bawah penjagaannya

Mendengarkan setiap perkataannya, percaya, dan memiliki ingin sederhana

Bukan seperti sekarang,

Kerap mengejutkannya dengan kalimat-kalimat tak terduga

Dan ujung-ujungnya membuat dia kecewa.

Cinta saja tak cukup

Kasih sayang kadang berbenturan dengan kepercayaan dan perbedaan

Bisakah kita beda?

Bisakah aku hidup dengan orang yang berbeda?

Bisakah beda tidak membuat kecewa?

Aku pun kecewa

Entah pada siapa

Tak Bernama

Ada hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan dalam hidup ini. Perasaan. Sedih, marah, khawatir, cemburu, senang,  bahagia, cinta. Dari semua itu yang bisa kita kendalikan hanyalah manifestasinya. Mengangkat dagu seraya berkata pada dunia aku baik-baik saja. Mengembangkan senyuman lebar dan menertawakan kehilangan. Atau sebaliknya. Berwajah datar ketika hati bergejolak senang. Berbicara tenang, padahal degup jantung hampir mengalahkan suara itu sendiri.

Tapi rasa itu. Tetap ada. Bersarang, mengisi setiap rongga hati. Kadang memberi semangat, kadang menggerogoti. Diredam setengah mati oleh logika sepanjang hari. Tapi di malam hari ketika kita sendiri. Di dalam sunyi, mereka muncul mengganggu tidur. Dalam bentuk air mata, atau senyum yang tak lagi bisa ditahan.

Rasa

Kehadirannya membuat hidup lebih berwarna.

Tapi bagaimana jika rasa tak diberi tempat. Baru hadir sejenak, dia ditumpas oleh logika. Ketika pikir mengalihkan dengan segudang pekerjaan yang tiada henti. Rasa itu bahkan tak bernama. Tak tahu apakah dia sedih, bahagia, atau patah hati. Nama-nama itu teredam tak mampu didefinisikan. Dia menjadi laten tak terungkapkan, bahkan tak bernama.

Haya saja, sebuah lagu bisa membuatmu menangis tanpa kamu tahu kenapa

Hanya saja, mulutmu menceracau tak terkendali tanpa kamu tahu kenapa

Hanya saja, kamu hanya ingin sendiri tanpa kamu tahu kenapa

Rasa itu tetap ada, tetap tak bisa dikendalikan, tetap mempengaruhi setiap langkah kehidupan

Meski dia tak bernama

Mencari Mood

Aku mencarimu

Di antara deretan kalimat di dunia maya

Kucoba selami berbagai akun yang kupunya

Twitter

Facebook

Path

Bukannya kamu yang kutemukan,

Malah pertanyaan tentang dia, tentang aku, tentang kami, dan kata apa yang bisa merangkai tiga tentang itu.

 

Aku mencarimu

Berulang kali mencoba kembali

Buka tutup berbagai dokumen dan deretan tulisan yang pernah kuketik

Kubaca lagi, kuhapus lagi, hambar

Malah menuntunku pada sejumlah dokumen yang harus kuisi, dan deadline pengirimannya sudah sejak bulan Juni

 

Aku mencarimu

Hanya tuk selesaikan satu halaman dari beberapa halaman yang sudah selesai kuisi

Agar dia menjadi dokumen utuh yang seharusnya sudah kukirim sejak beberapa jam yang lalu

Aku butuh sedikit saja sentuhanmu. Sedikit saja. Tuk selesaikan kewajiban yang membuatku bermalam di kantor di hari kerja pertamaku setelah libur lebaran.

 

Aku mencarimu

Dan ini upaya terakhirku sebelum menyerah. Berharap lincahnya jemariku yang menyusun kata-kata di dalam tulisan ini, akan berpindah pada dokumen yang hampir jadi.