Siang Hingga Sore Tadi

sebuah catatan kecil dari sidang putusan kasus perkosaan terhadap YF oleh empat orang petugas transjakarta (Selasa, 8 Juli 2014)

Kemarin malam itu, hanya sehari lebih beberapa jam menjelang pilpres. Saat tulisan sahabat saya tersebar begitu luas, mendapatkan tanggapan, dukungan. mewarnai timelineku dengan ratusan mention yang menyeruak berani di antara capres-capresan.

Tadi siang hingga sore, hanya beberapa jam menjelang Pilpres. Ketika mereka datang satu per satu. kawan lama, kawan baru, dari berbagai profesi, termasuk juga media. jumlahnya banyak. terbanyak sepanjang kasus ini berjalan di pengadilan

mereka hadir sejak pk 12.30. menunggu dengan sabar meski sidang yang dijadwalkan pk13 itu baru mulai pk 17.13. meski ruang sidang kerap berganti beberapa kali, dan berakhir di ruang sidang yang sangat sempit. meski di sidang sebelumnya jaksa menuntut dengan angka teramat kecil

ada yang bilang hakim sengaja menunda putusan berjam-jam agar media tak lagi meliput, massa tak lagi ikut. ada yang bilang hakim membacakan putusan dengan teramat pelan dan gemetaran lagi-lagi untuk menghindar media. ada yang bilang sidang ditunda karena putusan seketika diubah, melihatnya banyaknya media dan massa pendukung yang datang. Ada yang bilang jika saja KITA tak ada, maka bisa jadi putusan hakim berbeda. bisa jadi putusan hakim menyatakan keempat pelaku perkosaan di transjakarta itu tidak bersalah.

Apapun itu, yang jelas hari ini saya melihat ketulusan. saya melihat harapan. saya melihat perjuangan, dan kobaran semangat untuk melawan.

Terima kasih YF, seorang perempuan pemberani yang memilih untuk tidak diam, perempuan hebat yang memilih untuk melangkah tegap. mengajarkanku, menggerakan kami, membuatku merasakan semangat dan harapan

Kita tidak kalah, kita sudah melawan dan akan terus melawan

Keempat terdakwa diputus dengan hukuman penjara 1,5 tahun dipotong masa tahanan. Sesuai dengan tuntutan jaksa, yang kami sangat kaget, ketika tuntutan itu dibacakan. Putusan dan tuntutan itu sangat tidak sebanding dengan trauma yang dialami korban.Entah sampai kapan keberanian korban kekerasan seksual terus dibungkam oleh peradilan yang tidak adil bagi mereka. 

Bukan Sekedar Relawan

IMG-20140705-WA0032     

Ini pertama kalinya aku menangis karena memikirkan Negara

Selama 26 tahun aku tumbuh di negeri ini. Makan dari tanahnya, minum dari samuderanya (meski di waktu-waktu belakangan ini kita dibanjiri oleh produk import). Semestinya menjadi alasan yang begitu mudah untuk mencintai Indonesia.

Ya, aku mencintai Indonesia lewat kaca mata seorang Ibu, perempuan, single parent, yang berjuang keras untuk mencukupi kehidupan dia dan kelima anaknya. Aku mencintai Indonesia lewat kacamata sepasang pemulung yang menyaksikan hujan kembang api di malam tahun baru, sementara ketiga anak mereka tertidur di dalam gerobak. Aku mencintai Indonesia lewat belaian seorang Bapak gelandangan yang di malam hari berusaha mendekap erat agar anaknya tetap hangat meski tidur di pinggir jalan. Aku mencintai Indonesia lewat air mata perempuan buruh migran, yang meski terus menerima hinaan, meski menahan berjuta kerinduan, tetap bertahan hingga si buyung dan si upik bisa sekolah.

Aku mencintai Indonesia, tidak dengan Negara yang berarti penguasa. Nyatanya rakyat lebih pintar, lebih hebat, lebih bekerja keras jauh dari mereka. Nyatanya rakyat berjuang sendiri seraya tetap menggaji orang-orang yang kerjanya hanya menghasilkan sampah pembangunan. Mengeruk keuntungan kemudian menggusur. Mendapatkan jabatan kemudian membiarkan rakyat yang sakit tak bisa berobat, anak-anak tak bisa sekolah.

Aku tak percaya pada Negara

2004, ketika teman-teman sekolahku sudah bisa memilih, memamerkan jari mereka yang berhias tinta ungu. Sementara usiaku kurang beberapa bulan tuk mencapai 17. Jangankan iri, peduli pun tidak. Buat apa? Toh tak ada pilihan yang patut kupilih.

2009, hak pilih sudah kumiliki. Berangkat ke TPS, membuka surat suara di bilik, lalu dengan mantap menyilang gambar ketiga pasang kandidat. Kugunakan hak ku dengan tuntas. Tak sudi surat suaraku disalahgunakan, meski dia tak akan masuk hitungan.

Lalu ada yang berbeda di 2014. Ada yang mengubahku melalui sebuah konser yang kuhadiri sekedar tuk menikmati musik dari artis-artis yang kusukai. Ada yang berdesir di dalam dadaku ketika sang master of ceremony mendengungkan “Apakah kalian semua siap untuk mendukung orang baik?” Aku terhentak. Pilihan golput yang sempat aku putuskan tiba-tiba goyah oleh satu kalimat.

 IMG-20140606-WA0001 (1)

Perwakilan Serikat PRT Sapu Lidi Jakarta. Mereka menyumbang 'koin untuk Jokowi.' di visi misi Jokowi JK lah tertera perlindungan PRT dan UU Perlindungan PRT. 'Koin untuk Jokowi' juga disumbangkan di wilayah lain seperti Semarang, Jogja, dll, bertepatan dengan tanggal 16 Juni, Hari PRT Internasional

Perwakilan Serikat PRT Sapu Lidi Jakarta. Mereka menyumbang ‘koin untuk Jokowi.’ di visi misi Jokowi JK lah tertera perlindungan PRT dan UU Perlindungan PRT. ‘Koin untuk Jokowi’ juga disumbangkan di wilayah lain seperti Semarang, Jogja, dll, bertepatan dengan tanggal 16 Juni, Hari PRT Internasional

Keputusanku berubah semakin mantap. Tak hanya oleh sang MC dan pengisi acara di konserRock The Vote. Tetapi juga oleh para Pekerja Rumah Tangga yang di 16 Juni menyumbang koin untuk Jokowi. Oleh keluarga korban penculikan 1999 yang berorasi dan berpuisi di aksi kamisan ketiga ratus sekian kali. Oleh para oma korban 65 yang tetap hadir memperjuangkan keadilan. Oleh para tukang becak yang mengayuh becak mereka sejak pagi demi bergabung di Konser 2 jari.

IMG-20140705-WA0012

Rombongan tukang becak yang beriringan menuju GBK.

 

 

 

 

 

 

 

 

Marcus Siahaan keponakan dari Ucok Siahaan salah satu korban penculikan 98, berorasi di aksi Kamisan. Dia bilang: Negara ini bodoh membiarkan seorang pelanggar HAM menjadi capres

Marcus Siahaan (10 tahun) keponakan dari Ucok Siahaan salah satu korban penculikan 98, berorasi di aksi Kamisan. Dia bilang: Negara ini bodoh membiarkan seorang pelanggar HAM menjadi capres

 

Keputusanku juga kuambil melalui visi misi kedua pasang kandidat yang kucoba lumat habis-habisan. Melalui pernyataan demi pernyataan di debat kandidat maupun timses. Melalui kampanye yang kucermati, dokumen yang kupelajari.

perempuan               Buruh Migran

Ya, aku bergabung dengan mereka. Para relawan dan juga reLAWAN. Orang-orang yang membuat aku bangga berIndonesia. Membuatku berpikir lebih tentang Negara.

Mataku yang cengeng terlalu sering menangis. Dia menangis ketika membaca kisah picisan kakak-kaakkku yang kubaca diam-diam di diary mereka. Dia menangis ketika sebuah lagu mengumandangkan lara. Dia menangis marah mendengar tutur seorang korban perkosaan yang kerap disalahkan karena pakaian. Dia menangis geram mendengar seorang perempuan, buruh migran yang diperkosa majikan, malah dituduh zina dan harus melahirkan di penjara. Dia menangis ketika sosok seorang Ibu yang ditemui di luar sana membuncahkan kerinduanku kepada Mama.

Tapi mataku tak pernah menangis karena memikirkan Negara

Tapi pagi ini, mataku kembali menuangkan air mata. Atas emosi yang tercampur melalui berbagai gambar. Gambar wajah-wajah yang bergabung di GBK kemarin. Tua, muda, apapun profesi mereka. Datang dengan kesadaran tanpa bayaran. Tergerak atas kepercayaan akan harapan. Mereka percaya Indonesia berhak mencapai titik terang. Mereka membuatku percaya, mungkin bukan pada Negara, tapi pada kekuatan rakyat, suara rakyat, kehendak rakyat yang melawan.

Gambar itu mereda sejenak, saat mimpi semalam kembali teringat. Peluru, rumah sakit, dan kerinduan pada keluarga. Silahkan terjemahkan dengan bebas jalinan apa yang tengah muncul di dalam tidurku semalam. Dia muncul setelah berbagai kabar mengenai intimidasi. Dari Aceh hingga Timika. Mimpi itu datang setelah kabar kisruh Pemilu kuverifikasi melalui beberapa akun terpercaya, dan sumber langsung.

Untuk pertama kalinya aku menangis memikirkan Negara. Menangis bukan berarti takut, namun hati dan diri sudah harus siap siaga. Seperti yang kutulis di atas, aku bergabung bukan hanya dengan para relawan. Tetapi juga reLAWAN.

10511202_10152538775743258_1339958038626493935_n

Saya memahami bahwa Jokowi pun memiliki banyak sekali kekurangan. Pilihan saya diambil berdasarkan risiko terkecil yang saya coba hitung. Termasuk melihat track record, dan proses kampanye. Saya harap cara-cara mengedepankan dialog dan pelibatan masyarakat yang selama ini tercermin bisa kembali terwujud apabila ia memimpin negeri ini.

saya pilih dia, karena dia tidak sendiri, 

Analisis Visi Misi Capres Cawapres terkait Buruh Migran

 Momentum Pemilu kembali datang kepada kita. Entah kita sudah menentukan pilihan atau belum, ada banyak cara ataupun ukuran yang bisa kita gunakan untuk menilai para kandidat capres cawapres. Salah satunya adalah dengan membaca visi misi kedua pasang kandidat. Ulasan ini adalah salah satu upaya saya dalam menganalisis visi misi tersebut. Hanya karena sehari-hari saya bekerja di isu Buruh Migran, maka ulasan ini pun fokus pada isu yang baru saya geluti selama 3,5 tahun tersebut.

Analisis Visi Misi Capres Cawapres 2014

Terhadap Hak-hak Buruh Migran Perempuan dan Anggota Keluarganya

 

  1. Prabowo-Hatta

Hanya ada dua poin yang terkait langsung dengan Buruh Migran di dalam visi misi Prabowo, yaitu melindungi dan memperjuangkan hak-hak buruh termasuk buruh migran (TKI/TKW), yang dilakukan dalam rangka melaksanakan ekonomi kerakyatan[1] serta memberantas perdagangan manusia yang dilakukan sebagai bagian dari meningkatkan kualitas pembangunan sosial melalui program kesehatan sosial agama budaya dan olah raga.[2] Sayangnya, mereka tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai apa yang dimaksud dengan perlindungan buruh migran, sehingga kita tidak bisa menilik lebih dalam bagaimana dan dalam bentuk apa perlindungan akan dilakukan.

 

Namun, dari kedua poin tersebut ada beberapa hal yang perlu dikritisi. Pertama, mengenai simplifikasi terhadap persoalan perlindungan buruh migran. Seharusnya di dalam melihat persoalan Buruh Migran, terutama Indonesia, kita harus melihat berbagai aspek yang saling terkait. Pengalaman Solidaritas Perempuan dalam bekerja bersama Buruh Migran, termasuk dalam bentuk penanganan kasus, menunjukan bahwa buruh migran perempuan terutama yang bekerja sebagai Pekerja Rumah Tangga, mengalami berbagai kekerasan yang berlapis. Kekerasan dan pelanggaran hak Buruh Migran juga tidak hanya terjadi ketika mereka bekerja di Negara tujuan, tetapi banyak kasus terjadi di Indonesia, baik di tahap pra pemberangkatan, maupun tahap kepulangan.

 

Jenis kasus yang ditangani Solidaritas Perempuan antara lain Hilang kontak, trafficking, gaji tidak dibayar, pelanggaran kontrak, kriminalisasi, hingga pembunuhan. Dari pengalaman tersebut jelas bahwa persoalan buruh migran tidak hanya terkait aspek ketenagakerjaan, tetapi juga aspek lain seperti perlindungan terhadap perempuan, karena mayoritas Buruh Migran Indonesia adalah perempuan, dan perempuan memiliki kerentanan yang berlapis, serta aspek keamanan dalam proses migrasi yang mana menjadi tanggung jawab Negara untuk menjamin hak atas rasa aman, dan hak-hak lainnya di dalam proses migrasi tersebut.

 

Selain itu, buruh migran Perempuan yang bekerja sebagai Pekerja Rumah Tangga memiliki lapisan kerentanan yang lebih banyak, karena posisi subordinatif akibat paradigma dan kultur mayarakat dalam melihat Pekerja Rumah Tangga, serta situasi mereka di dalam rumah dan seringkali terisolasi di Negara tujuan. Aspek lainnya adalah penyebab dari fenomena migrasi itu sendiri yang didorong oleh factor ekonomi dan situasi pemiskinan yang dialami oleh masyarakat. Maka arah kebijakan ekonomi juga menjdi faktor penentu untuk perlindungan buruh migran.

 

Negara memiliki tanggung jawab untuk menjamin pemenuhan, perlindungan, dan pemenuhan hak-hak seluruh warga negaranya, tidak terkecuali Buruh Migran dan anggota keluarganya. Karena itu, visi dan misi terkait Buruh Migran juga seharusnya melihat berbagai aspek dari Buruh Migran dan melihat keterkaitannya dengan persoalan dan kebijakan lainnya, termasuk soal ekonomi, pendidikan, perlindungan perempuan, kesehatan, ketenagakerjaan, politik luar negeri, keluarga buruh migran dan lain sebagainya.

 

Kedua, kita perlu menyoroti pula landasan dari visi misi yang dibuat. Prabowo-Hatta meletakkan misi ‘memberantas perdagangan manusia’ sebagai bagian dari misi ‘meningkatkan kualitas pembangunan sosial melalui program kesehatan, sosial, agama, budaya dan olah raga.’

 

Kita tentunya mengetahui bahwa trafficking merupakan kejahatan yang luar biasa (exra ordinary crime), yang menurut Perundang-undangan Negara kita juga merupakan tindak pidana. Kembali berkaca dari pengalaman Solidaritas Perempuan menangani kasus trafficking, buruh migran yang menjadi korban trafficking masih sangat sulit dalam mengakses keadilan. Banyak kasus trafficking buruh migran hanya berhenti pada proses penyelidikan di kepolisian dengan alasan kurang bukti atau dianggap bukan kasus trafficking karena aparat penegak hukum masih menggunakan KUHP, bukannya menggunakan UU Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (UU PTPPO). Sehingga, aspek penegakan hukum seharusnya menjadi hal yang krusial dalam membicarakan pemberantasan perdagangan manusia, di samping program kesehatan, sosial, agama, budaya dan olah raga.

 

Menggunakan program kesehatan, agama, sosial, dan olah raga untuk korban trafficking bisa menjadi hal yang positif misalnya dalam rangka pemulihan dan proses reintegrasi korban. Sayangnya, di dalam naskah visi misi Prabowo Hatta ini tidak memberikan keterangan yang jelas mengenai keterkaitan antara pemberantasan trafficking dengan program kesehatan, agama, sosial, dan olah raga. Hal yang perlu ditekankan adalah jangan sampai aspek kesehatan, agama, sosial, dan olah raga tersebut justru berdampak pada diskriminasi/reviktimasasi korban trafficking.

 

Ketiga, dalam membicarakan persoalan Buruh Migran penting bagi kita untuk menilik kebijakan-kebijakan ekonomi. Seperti yang sudah dibahas di atas, bahwa factor ekonomi dan situasi pemiskinan yang dialami masyarakat menjadi factor pendorong tingginya angka migrasi tenaga kerja Indonesia, terutama perempuan yang bekerja sebagai pekerja rumah tangga. Pemiskinan yang terjadi merupakan dampak dari kebijakan-kebijakan ekonomi termasuk perjanjian internasional yang tidak berpihak terhadap masyarakat serta melanggengkan alih fungsi lahan, penggusuran, perampasan lahan, dan hilangnya sumber-sumber kehidupan masyarakat, yang pada akhirnya mendorong perempuan menjadi Buruh Migran.

 

Dalam visi misi Prabowo Hatta, terdapat misi terkait melaksanakan ekonomi kerakyatan melalui koperasi dan UMKM, penyaluran kredit bagi petani, peternak, nelayan, buruh, pegawai industry kecil menengah, pedagang tradisional dan pedagang kecil, pasar tradisional,[3] dll, serta mempercepat reforma agraria untuk menjamin kepemilikan tanah.[4] Namun hal itu akan menjadi sulit untuk dilakukan ketika tidak ada proteksi terkait kebijakan-kebijakan luar negeri yang berpotensi pada pemiskinan. Contohnya adalah dalam konteks menghadapi ASEAN Economic Community (AEC), fokus Prabowo Hatta adalah pada peningkatan daya saing.[5] Namun tidak ada kebijakan mengenai bagaimana mengantisipasi dampak dari AEC maupun perjanjian lainnya terhadap pemiskinan masyarakat, dan terhadap buruh migran.  

 

  1. Jokowi-JK

Pasangan kandidat ini mencantumkan perlindungan buruh migran secara lebih spesifik, di dalam beberapa langkah termasuk pada tataran kebijakan, serta mencakup beberapa dimensi, meskipun belum komprehesif. Untuk itu, kita perlu melihat dan mengkritisi langkah-langkah dan misi Jokowi-JK secara tajam.

 

Pertama, Jokowi-JK mencantumkan misi terkait buruh migran dalam berbagai aspek, antara lain kewajiban Negara, kedaulatan politik, pemberdayaan perempuan, dan ketenagakerjaan. Mereka mencantumkan misi ‘melindungi hak dan keselamatan warga Negara Indonesia di luar negeri khususnya pekerja migran,’ dalam konteks menghadirkan kembali Negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga Negara.[6]

 

Selain itu, membangun kapasitas untuk melindungi hak dan keselamatan warga negara Indonesia di luar negeri, dengan memberi perhatian khusus pada perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) juga dilakukan sebagai bagian dari visi misi Jokowi-JK untuk berdaulat dalam bidang politik.[7]

 

Dalam konteks ini, Jokowi-JK melihat tanggung jawab Negara untuk menjamin rasa aman dan keselamatan warganya di luar negeri, termasuk Buruh Migran. Tanggung jawab itu salah satunya diwujudkan di dalam hubungan internasional. Namun, di dalam visi misi tersebut, tidak tercantum mengenai bagaimana Negara dalam ranah diplomasi dan politik luar negeri seharusnya juga mendesak dan memastikan Negara tujuan menjamin perlindungan Buruh Migran, baik melalui bilateral agreement maupun regulasi nasional mereka.

 

Jokowi-JK juga sudah mengidentifikasi identitas perempuan di dalam membicarakan persoalan buruh migran, sehingga buruh migran juga tercantum di bagian Komitmen terhadap pemberdayaan perempuan dalam politik pembangunan dengan perlindungan Buruh Migran. Visi Misi Jokowi JK mencantumkan Perlindungan buruh migran melalui:[8]

  • Pembatasan dan pengawasan peran swasta
  • Menghapus semua praktik diskriminatif terhadap buruh migran terutama buruh migran perempuan
  • Menyediakan layanan public bagi buruh/pekerja migran yang mudah dan aman sejak rekruitmen, selama di luar negeri, hingga pulang kembali ke Indonesia
  • Bantuan hukum secara Cuma-Cuma bagi buruh/pekerja migran yang berhadapan dengan masalah hukum
  • Harmonisasi konvensi internasional 1990 tentang Perlindungan hak-hak buruh migran dan anggota keluarganya ke dalam seluruh kebijakan terkait migrasi tenaga

 

Sayangnya, Jokowi-JK masih melupakan beberapa aspek terkait perlindungan Buruh Migran. Ketika mereka mencantumkan bantuan hukum Cuma-Cuma untuk buruh miran yang berhadapan dengan hukum, seharusnya pendampingan dan penanganan kasus bagi Buruh Migran yang mengalami kekerasan dan pelanggaran hak juga menjadi bagian dari perlindungan.

 

Selain itu, di dalam visi misi Jokowi-JK terlihat akan adanya perombakan sistem, seperti pembatasan dan pengawasan peran swasta, ataupun layan public bagi buruh migran di berbagai tahapan migrasi. Namun, tidak dijelaskan secara lebih lanjut mengenai sistem atau mekanisme untuk menjalankan peran pemerintah, termasuk sistem/mekanisme yang menjamin hak atas informasi bagi buruh migran dan anggota keluarganya.

 

Jokowi-JK juga mencantumkan misi terkait Buruh Migran pada aspek ketenagakerjaan, yang mencakup Melakukan revisi terhadap UU No. 39/2004 dengan menekankan pada aspek perlindungan, mendorong UU tentang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga, serta mendukung pengalihan konsorsium Asuransi TKI menjadi bagian dari BPJS kesehatan.[9]

 

Seperti yang kita ketahui, bahwa BPJS kesehatan hanya menanggung risiko-risiko terkait aspek kesehatan. Namun, berbicara tentang buruh migran, ada aspek lainnya selain aspek kesehatan yang bisa menjadi risiko. Misalnya saja persoalan gaji tidak dibayar, gagal berangkat, pelanggaran kontrak, dan lain sebagainya yang tidakterkait kesehatan tapi juga bisa berdampak pada kesejahteraan buruh migran. Sehingga skema di dalam BPJS kesehatan tidak cukup komprehensif untuk menjamin hak-hak Buruh Migran.

 

Kedua, terkait trafficking, Jokowi-JK meletakan isu ini di dalam aspek kerja sama internasional[10] dan pemberantasan tindak criminal terhadap anak dan perempuan.[11] Seperti yang sudah diungkapkan sebelumnya bahwa persoalan implementasi UU PTPPO menjadi halangan tersendiri bagi upaya pemberantasan trafficking. Sayangnya, seperti juga Prabowo-Hata, Jokowi-JK sama sekali tidak menyentuh UU PTPPO ataupun upaya memperkuat UU ini termasuk meningkatkan kapasitas dan pemahaman aparat penegak hukum dan masyarakat mengenai trafficking dan UU PTPPO.

 

Ketiga, terkait kebijakan ekonomi dan pemiskinan, Jokowi-JK mengungkapkan sejumlah kebijakan yang mengarah pada proteksi dan antisipasi terhadap dampak kebijakan ekonomi dan perjanjian internasiona. Seperti juga Prabowo-Hatta, Jokowi-JK juga mengungkapkan Prioritas akses modal bagi UMKM, pendampingan ekonomi untuk menumbuhkan industriawan muda.[12]

 

Selain itu, mereka memiliki beberapa kebijakan untuk Mekanisme proteksi, reformasi lembaga keuangan internasional, serta mengelola dampak integrasi ekonomi regional dan perdagangan bebas terhadap kepentingan ekonomi nasional Indonesia. Sayangnya Jokowi-JK tidak memberikan keterangan secara clear terhadap konsep maupun langkah yang dilakukan untuk melaksanakan komitmen tersebut. Misalnya saja, apa yang dimaksud dengan mekanisme terselubung untuk melindungi tenaga kerja dalam pelaksanaan masyarakat ekonomi ASEAN.[13] Selain itu, reformasi apa yang ingin didorong Jokowi-JK di dalam visi misinya yang mengatakan Mendorong reformasi lembaga-lembaga keuangan internasional Bretton Wood khususnya World Bank dan International Monetary Fund (IMF)[14]

 

Keempat, terkait dengan program untuk perempuan, program yang dikemukakan oleh Jokowi-JK lebih kepada perlindungan/proteksi untuk perempuan.[15] Namun, Jokowi-JK tidak banyak membahas mengenai ruang keterlibatan perempuan. Keterlibatan perempuan yang dibahas hanya sebatas keterlibatan di dalam struktur pemerintahan melalui kuota 30%. Padahal, di Indonesia perempuan tidak mendapatkan akses dalam pegambilan keputusan, di berbagai ranah, sejak ranah rumah tangga, masyarakat hingga Negara. Di dalam visi misi tersebut banyak disebutkan mengenai proyek-proyek pembangunan infrastruktur, yang pada umumnya berpotensi pada penggusuran dan berdampak pada masyarakat terutama perempuan. Namun tidak terlihat bagaiama proyek-proyek tersebut melibatkan perempuan melalui meaningful consultation untuk mengambil keputusan. Padahal, keterlibatan perempuan di dalam menentukan pembangunan sangat penting untuk menyuarakan dan memperjuangkan kepentingan perempuan

 

  1. Komentar Umum

Meski kedua kandidat mencantumkan Perlindungan Buruh Migran di dalam visi misi mereka, namun belum komprehensif.

 

Dari kedua pasang kandidat belum ada yang mencantumkan perihal aspek kesehatan buruh migran, termasuk kerentanan buruh migran terhadap HIV & AIDS,[16] ataupun diskriminasi yang dialami buruh migran dalam hal tes kesehatan. Aspek kesehatan buruh migran tidak bisa disimplifikasi dengan skema asuransi. Jaminan hak atas kesehatan antara lain dilakukan melalui Peningkatan kapasitas dan pengetahuan buruh migran mengenai kesehatan, HIV/AIDS, hak dankesehatan seksual dan reproduksi (SRHR), menjamin terpenuhinya akses buruh migran terhadap kesehatan (pencegahan dan perawatan) yang memadai bagi calon buruh migran untuk melindungi kesehatan buruh migran (termasuk calon maupun mantan), serta Menghapus Praktik mandatory HIV testing

 

Keluarga buruh migran merupakan bagian tidak terpisahkan dari Buruh Migran. Keluarga juga akan terdampak ketika buruh migran mengalami kekerasan dan pelanggaran hak. Keluarga juga berperan terhadap buruh migran, termasuk dalam proses reintegrasi. Sehingga, dalam menyusun program terkait buruh migran juga harus mencakup program-program yang melibatkan keluarga buruh migran, seperti program pelatihan pengelolaan remitansi, jaminan pendidikan untuk anak buruh migran, persiapan reintegrasi, dan lain sebagainya.

 

Perlindungan Pekerja Rumah Tangga baik di dalam maupun luar negeri, tidak hanya melalui UU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga, tetapi juga melalui Ratifikasi Konvensi ILO No. 189 tentang Kerja Layak Pekerja Rumah Tangga

 

Sementara terkait trafficking, pemberantasan trafficking harus dilakukan dalam dua aspek. Pertama adalah aspek penegakan hukum, yaitu melalui implementasi UU PTPPO, termasuk peningkatan kapasitas terhadap aparat, dan masyarakat mengenai UU tersebut. Kedua adalah aspek hak korban untuk mendapatkan pemulihan, restitusi, perlindungan, termasuk pilihan untuk mengubah identitas, serta proses reintegrasi dengan keluarga dan lingkungan masyarakat.

 

Membicarakan buruh migran tidak bisa hanya membicarakan proses migrasi yang dialami buruh migran. Isu buruh migran juga sangat terkait dengan situasi pemiskinan yang terjadi di masyarakat. Karena itu, penting untuk merevisi berbagai kebijakan yang berpotensi terhadap perampasan sumber-sumber kehidupan masyarakat terutama perempuan, serta mempertimbangkan kepentingan rakyat dan perempuan dalam merumuskan setiap kebijakan termasuk kebijakan ekonomi dan perjanjian perdagangan. Karena itu, perlindungan Buruh Migran juga harus menjadi prioritas dari agenda politik internasional termasuk bagaimana mendesak dan memastikan Negara tujuan menjamin perlindungan Buruh Migran, baik melalui bilateral agreement maupun regulasi nasional mereka.

 

Kedua kandidat juga membahas mengenai ASEAN Community 2015, namun mereka hanya fokus pada aspek ekonomi dalam ASEAN Community 2015. Seharusnya para kandidat tidak hanya melihat pada aspek ekonomi, tetapi juga Perlindungan Buruh Migran. Apalagi beberapa anggota ASEAN merupakan Negara asal dan Negara tujuan Buruh Migran. Karena itu penting untuk Mendorong ASEAN dalam membentuk Kerangka Instrumen ASEAN untuk Perlindungan dan Promosi Hak-hak Buruh Migran, agar instrument yang dihasilkan benar-benar melindungi buruh migran tanpa memandang status dokumen mereka, serta mengikat secara hukum bagi Negara-negara anggota ASEAN.

Bagaimanapun visi misi hanyalah satu dari banyak hal yang bisa dilihat sebagai pertimbangan untuk menentukan pilihan. Analisis yang saya lakukan bukan berarti saya menelan bulat-bulat dan percaya bahwa visi misi itu akan 100% terwujud siapapun yang akan memenangkan Pemliu 2014.Namun setidaknya analisis yang ada menggambarkan bagaimana mereka berkonsep, sekaligus sebagai sebuah senjata untuk menagih komitmen mereka nantinya.

Bagi saya, track record menjadi penting, terutama untuk melihat mana kandidat yang ‘terakses’ dan mampu mengedepankan dialog, sehingga masih ada ruang untuk kita tidak hanya terus mengawal tetapi juga terlibat dalam perumusan program dan kebijakan, sehingga yang dihasilkan bisa jauh lebih baik daripada yang saat ini ada di dalam visi misi.

 

Selamat memilih

Lampiran:

Visi Misi Kandidat Terkait Buruh Migran

Prabowo-Hatta

Jokowi JK

Melaksanakan ekonomi kerakyatan salah salah satunya dengan melindungi dan memperjuangkan hak-hak buruh termasuk buruh migran (TKI/TKW)

 

(halaman 5)

Melindungi hak dan keselamatan warga Negara Indonesia di luar negeri khususnya pekerja migran

(halaman 6-7)

Memberantas perdagangan manusia

 

(halaman 10)

Membangun kapasitas untuk melindungi hak dan keselamatan warga negara Indonesia di luar negeri, dengan memberi perhatian khusus pada perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (TKI)

 

Mengintegrasikan kerja sama internasional dalam mengatasi masalah-masalah global yang mengancam umat manusia, salah satunya perdagangan manusia

 

(halaman 13)

 

Peraturan perundang-undangan dan langkah-langkah perlindungan bagi semua Pekerja Rumah Tangga (PRT) yang bekerja di dalam maupun di luar negeri

 

(halaman 23)

 

Perlindungan buruh migran melalui:

Pembatasan dan pngawasan peran swasta

 

Menghapus semua praktik diskriminatif terhadap buruh migra terutama uruh migran perempuan

 

Menyediakan layanan public bagi buruh/pekerja migran yang mudah dan aman sejak rekruitmen, selama di luar negeri, hingga pulang kembali ke Indonesia

 

Bantuan hukum secara Cuma-Cuma bagi buruh/pekerja migran yang berhadapan dengan masalah hukum,

 

Harmonisasi konvensi internasional internasional 1990 tentang Perlindungan hak-hak buruh migran dan anggota keluarganya ke dalam seluruh kebijakan terkait migrasi tenaga kerja

 

(halaman 23)

 

Berkomitmen untuk melakukan pemberantasan tindak criminal yang menjadikan anak dan perempuan sebagai objek eksploitasi di dunia kerja, dan objek transaksi dalam masalah kejahatan perdagangan orang (human trafficking) baik di dalam negeri maupun lintas Negara

 

(halaman 26-27)

 

Mekanisme proteksi terselubung untuk melindungi tenaga kerja dalam pelaksanaan masyarakat ekonomi ASEAN

 

(halaman 33)

 

Melakukan revisi terhadap UU No. 39/2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dengan menekankan pada aspek perlindungan

 

UU tentang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga

 

Mendukung pengalihan konsorsium Asuransi TKI menjadi bagian dari BPJS kesehatan

 

(halaman 33)

 

 

 

 

[1] Halaman 5 Visi Misi Prabowo-Hatta

[2] Halaman 10 Visi Misi Prabowo Hatta

[3] Halaman 6 Visi Misi Prabowo-Hatta

[4] Halaman 7 Visi Misi Prabowo Hatta

[5] Halaman 5 Visi Misi Prabowo-Hatta

[6] Halaman 6-7 Visi Misi Jokowi-JK

[7] Halaman 13 Visi Misi Jokowi-JK

[8] Halaman 23 Visi Misi Jokowi-JK

[9] Halaman 33 Visi Misi Jokowi-JK

[10] Mengintegrasikan kerja sama internasional dalam mengatasi masalah-masalah global yang mengancam umat manusia, salah satunya perdagangan manusia (visi misi Jokowi-JK halaman 13)

[11] Berkomitmen untuk melakukan pemberantasan tindak criminal yang menjadikan anak dan perempuan sebagai objek eksploitasi di dunia kerja, dan objek transaksi dalam masalah kejahatan perdagangan orang (human trafficking) baik di dalam negeri maupun lintas Negara (visi misi Jokowi-JK halaman 26-27)

[12] Halaman 38 Visi Misi Jokowi-JK

[13] Halaman 33 Visi Misi Jokowi-JK

[14] Halaman 13 Visi Misi Jokowi-JK

[15] Halaman 23 Visi Misi Jokowi-JK

[16]Data HIPTEK menunjukkan adanya peningkatan dalam prosentase buruh migran yang terinfeksi HIV/AIDS. Dari 145.298 calon buruh migran untuk tujuan negara-negara Timur Tengah pada tahun 2005, 0,09% terinfeksi HIV. Sementara data tahun sebelumnya persentasenya sebesar 0,087%. Tahun 2010, prosentase tersebut meningkat menjadi 0,11%. Selama 2010-2011, Peduli Buruh Migran (PBM) menangani 55 Buruh Migran yang dideportasi dari Malaysia yang terinfeksi HIV. (buku usulan SP untuk Revisi UU No. 39 Tahun 2004 halaman 23)

 

Menua

Rasanya saya menua begitu cepat. Kehilangan usia muda yang lewat begitu saja. Usia yang meledak-ledak penuh arogansi khas darah muda. Sudah berganti dengan menit demi menit yang dilewati dnegan kontepelasi, berpikir panjang, dan kadang-kadang stuck pada  dilema berkepanjangan.

Saya kehilangan makna dari umpatan spontan, caci maki yang mengalir begitu lancar. Pun kini mengumpat atau mencaci mesti ada yang dituju. Tak mau sembarangan, beralih menjadi orang setengah robot. Terancang dalam kata sikap perbuatan. Bahkan kadang lebih banyak berpikir ini itu, lalu kreativitas ikut menguap tak bersisa. Tak spontan.

Saya bukannya kehilangan bersenang-senang. Kesenangan muda yang naïf itu yang hilang. Berganti kesenangan dewasa, musik, keramaian, kegilaan. Kesenangan yang gila, namun tetap tidak spontan. Ada koridor yang harus diikuti, tanggung jawab namanya.

Saya kehilangan kesenangan mengumpat dan mencaci maki. Berganti menjadi merutuki diri sendiri. Mempertanyakan konsistensi atas segala kontradiksi yang saat ini ditemui. Tenggelam dalam perang berkepanjangan antara idealisme dan kebutuhan. Kebutuhan tentu bukan berarti uang, lebih pada ambisi dan capaian, yang kadang melesat jauh meninggalkan kemurnian hati nurani.

Rasanya saya menjadi lebih tua dari usia saya 

Kegelisahanku Sendiri

Sendainya aku mampu meredakan gelisahmu,

Namun mampuku hanya menahannya tuk sementara

Gelisah itu kerap datang tak menentu,

Berpijak tanpa izin, menetap, di setiap rongga pikirmu

Dia seakan mengalah dan hilang sesekali,

Membuatku tenang, meredakan gelisahku sejenak saja

Lalu di tengah perbincangan ringan kita

Di tengah tema keriangan yang begitu sederhana

Di tengah belai manja dan senyum sayang di paras elokmu

Gelisahmu datang lagi,

Menggeliat, bertanya, dan menuntut

Tak jarang berakhir pada air mata

Seakan ketiadaanku berarti sunyi bagimu

Seakan jarak yang hanya beberapa jam saja membuatmu beku

 

Seandainya aku mampu meredakan gelisahmu, Ma

Namun aku memiliki kegelisahanku sendiri

Yang hanya bisa reda

Pada apa yang membuatmu gelisah

Maaf

Menuju Matang

Izinkanlah kali ini saya memperlakukan blog saya ini sebagai buku diary (padahal mah udah banyak curhatan picisan di blog ini :p). Karena keresahan hati ini sangat ingin saya bagi. Bisa jadi hanya butuh tercurahkan, atau mungkin siapa tahu bisa juga jadi pembelajaran.

Belakangan ini banyak hal yang membuatku menjadi begitu mudah mengeluarkan air mata. Mulai dari kisah-kisah yang kusaksikan, atau dengarkan, hingga tantangan hidup yang kini terasa begitu nyata. Di usiaku yang tak lagi dini ini mungkin aku tengah menghadapi tahap yang menguji kematanganku. Kematangan hidup ataupun kematangan berpikir. Karena tantangan yang aku hadapi bukan sekedar persoalan ece-ece, apalagi picisan. Ini soal ideology, soal prinsip, soal pilihan hidup. Namun bersama dengan tantangan-tangan itu muncul pembelajaran yang membuahkan Harapan.

Akhir-akhir ini aku banyak bersentuhan dengan isu kekerasan seksual. Lewat film, Berita, maupun korbannya langsung. Cerita mereka, trauma dan kesedihan, hingga perasaan bersalah dan ingin bunuh diri tidak hanya menguras air mata, tapi juga marah dan geram. Cukup marah untuk memantapkan sebuah komitmen. Bahwa aku tidak akan diam.

Namun di balik semua kisah sedih tentang kekerasan terhadap perempuan, di tahap ini aku juga bertemu banyak orang yang memberikan pembelajaran. Tak hanya perempuan, survivor, pendamping yang hebat. Tapi juga para laki-laki yang terlibat. Mereka yang sepenuhnya sadar bahwa perempuan bukan atribut laki-laki, bahwa laki-laki juga harus berperan dalam penghapusan kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan. Kehebatan mereka bukan Cuma di pemikiran, mereka berbuat, mereka tidak diam, maka kami perempuan tidak sendirian.

Lalu ke tantangan pribadiku. Ketika generasi berganti, dan paradigm generasi sekarang jauh berbeda dengan sebelumnya. Well, soal ini mungkin tidak bisa digeneralisasi menjadi persoalan antar generasi. Tapi setidaknya persoalan inilah yang terjadi. Antara aku dan mama.

Belum lama ini sebuah pesan masuk melalui Whatsapp. Beberapa jam setelah Mama melarangku pulang ke rumah dengan alas an malu kalau hansip melihatku pulang pukul 2 pagi. Pesan yang lebih serius dari peringatan-peringatan mama sebelumnya. Lengkap dengan ungkapan ‘kalau kamu masih ngerasa punya mama,’ dan kata-kata lainnya yang membuatku merasa bersalah sekaligus geregetan. Intinya soal mama merasa aku anak bungsu kesayangannya ini sudah mulai melenceng. Soal pulang tengah malam, soal ‘keluar rumah’ padahal belum kawin, sampai soal bagaimana pandanganku mengenai perkawinan itu sendiri. Yah, kalau memang ukurannya pendapat mainstream nan feodal dan konservatif si mau bilang apa? Malah aneh kalau aku ga melenceng, hehe.

Tapi masalah menjadi rumit ketika Mama menimpakan semua kesalahan pada dunia kerjaku. Beliau berkeyakinan kalau melencengnya aku itu akibat lingkungan kerjaku, dunia orangt-orang feminis, haha. Sehingga permintaannya yang tidak bisa ditawar adalah untuk aku segera meninggal dunia aktivitas (baca:kerjaku) sekarang.

Di satu sisi, aku telah meyakini pilihan yang sudah kuambil. Aku telah mantap dan sangat bersyukur dengan jalan yang aku tapaki saat ini. Namun di sisi lain, mama telah sukses membuatku merasa bersalah. Sukses membuatku merasa telah membuatnya sedih. Seandainya mama tahu cintaku padanya begitu dalam. Bahkan karena cintaku padanya lah yang membuatku tak bisa diam. Membuatku ingin terus bergerak, berjuang, menggeliat di jalan yang kupilih saat ini.

Lalu ada cerita tentang beberapa kawan. Bukan hanya aku kawan, begitu banyak orang yang mengalami tantangan, menghadapi pertentangan perspektif dan keinginan dengan orang tua. Di sini aku banyak belajar. dari mereka yang harus menghadapi keluarga hingga berujung ke pengusiran. Mereka yang memilih profesi berbeda dari ekspektasi. Mereka yang menikah tidak dengan yang seagama. Mereka yang menyatakan orientasi seksual tidak seperti yang diharapkan orang tua.mereka bertahan, seraya berusaha tetap berbakti pada orang-orang yang meraka sayangi. Sulit memang. Tapi mereka bertahan.

Usiaku tak lagi dini, maka hidupku memang tak lagi soal remeh dan picisan. Hidupku adalah proses menuju kematangan. Berpikir, memilih, berideologi, bersikap. Keempatnya harus matang. Namun ada satu yang akan terus menjadi proses tanpa akhir. Yaitu perjuangan.

Perkosaan oleh Hukum dan Masyarakat

Diperkosa 15 Orang, Rahim Korban Membusuk

http://regional.kompas.com/read/2014/01/28/1017386/Diperkosa.15.Orang.Rahim.Korban.Membusuk

Pertama membaca berita di atas, perasaan tu rasanya kecabik-kecabik. Kasus ini menunjukan betapa hukum, masyarakat, budaya, dan banyak aspek lainnya tidak berpihak pada perempuan, dalam hal ini perempuan korban perkosaan.

Ketika di berita diungkapkan bahwa LBH Bandar Lampung tidak lagi mendampingi korban dengan alasan korban tidak kooperatif pada saat menjalani pemeriksaan, saya kembali teringat pengalaman beberapa orang kawan:

“Dia ga mau lagi ke penyidik, karena dia merasa ditelanjangi lagi ketika ditanya oleh penyidik.”

“Sama polisi itu, bahkan ditanya alas kaki apa yang kita pakai. Waktu aku bilang pakai sandal jepit, dia menuduhku berbohong dan aku pasti menggunakan high heels.”

Dari dua pernyataan di atas, bisa dibayangkan situasi yang dihadapi ketika korban perkosaan berhadapan dengan hukum, juga apa yang ada di pikiran para penyidik? Bagaimana mereka malah cenderung mencari-cari sebab perempuan diperkosa. Apakah bajunya, apakah alas kakinya, apakah prilakunya. Pendeknya, mereka justru berusaha dengan segala cara untuk menyalahkan korban.

“Lagian kalaupun pelakunya dihukum paling beberapa tahun, ga sebanding sama perasaan diperkosa berkali-kali.”

Berapa banyak si kasus perkosaan yang benar-benar berakhir dengan keadilan bagi para korban? Seberat apa si mereka dihukum? Padahal mau seberat apapun hukuman mereka, tetap tidak akan sebanding dengan trauma seumur hidup yang dialami oleh korban.

Beberapa tahun yang lalu, waktu masih kuliah, sempat ada kasus perkosaan yang dialami kakak kelasku oleh dosen pembimbingnya yang juga dosenku. Seorang pengacara terkenal yang baru-baru ini muncul kembali di televisi karena membela seorang koruptor.

Lalu bagaimana dengan kasus perkosaannya? Dia dipecat. Itu saja. Proses hukumnya tidak dilanjutkan dengan alasan pembuktian yang sulit. Selesai. Dia kembali berkarier, sementara sang korban kehilangan keceriaan yang dulu menjadi ciri khasnya.

Pasal untuk perkosaan yang tidak mengakomodir seluruh bentuk perkosaan, proses pembuktian yang sulit, dan perspektif aparat penegak hukum yang cenderung menyalahkan perempuan. Itulah dunia hukum kita. Namun kita tidak akan selesai jika hanya berbicara masalah hukum. Hukum buatan manusia, didasari oleh cara pandang yang ada di masyarakat, diwakili oleh para pejabat yang merumuskan kebijakan-kebijakan.

Ketika perkosaan dianggap biasa, ketika bahkan banyak laki-laki yang melakukan perkosaan, merasa berhak melakukannya.

 

“Bayangkan saja kalau orang naik Mikrolet duduknya pakai Rok Mini, kan agak gerah juga” (Fauzi Bowo- saat itu Gubernur DKI Jakarta)
“Soalnya ada yang sengaja, kadang-kadang ada yang sama-sama senang, mengaku diperkosa,” (M. Nuh, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan)
“Yang diperkosa dengan yang memerkosa ini sama-sama menikmati. Jadi, harus pikir-pikir terhadap hukuman mati.” (Daming Sunusi, Calon Hakim Agung, Ketua Pengadilan Tinggi Banjarmasin)

Pada kasus yang sebutkan di awal, keluarga, dalam hal ini ayah korban yang mengambil keputusan atas perkosaan terhadap anaknya, memilih untuk berdamai dengan pelaku. Mungkin karena perkosaan dianggap biasa, atau mungkin karena yang memiliki kuasa untuk mengambil keputusan adalah sang ayah, bukan yang mengalami perkosannya. Entahlah.

Untuk kasus RW yang juga ramai diberitakan media. Bagaimana kita melihat media justru memperkosa korban berkali-kali dengan pemberitaan-pemberitaan yang menyudutkan.

SPEKTANEWS (Jakarta) Mahasiswi berinisial RW (22) yang hamil diakibatkan hubungan asmaranya dengan seorang penyair, Sitok Srengenge bersikap cukup membingungkan. Pasalnya ia tak ingin Sitok bertanggung jawab dengan cara menikahinya. (http://www.spektanews.com/2013/12/tak-sudi-dinikahi-sitok-rw-harus-ungkap.html)

Lalu kembali ke kasus yang terjadi ketika aku kuliah. Bahkan dukungan bagi korban terdengar terlalu samar dari fakultas kami. Sebuah seminar tentang kekerasan seksual justru dilakukan di Fakultas sebelah. Dan yang paling mencengangkan bagiku ketika mendengar komentar seorang adik kelas ketika si pelaku berpamitan di kelasnya, karena tidak lagi bisa mengajar.

“Sedih banget deh tadi bg TN (pelaku) pamitan, semua angkatan gw juga pada sedih dia ga bisa ngajar lagi.”

Karena perkosaan dianggap biasa? Karena mereka merasa si pelaku berhak mempekosa, maka kepergian si pelaku yang mendapat sanksi tidak lagi bisa mengajar pantas disesali dan disedihkan? Entahlah.

Padahal trauma itu lekatnya seumur hidup. Aku merasa perasaan yang dialami oleh korban perkosaan tidak bisa dirasakan oleh orang lain yang tidak merasakannya. Maka setiap berhadapan dengan mereka, aku tak pernah mengatakan bahwa aku memahami apa yang kamu rasakan, atau aku bisa merasakan apa yang kamu rasakan. Tidak. Aku tidak sanggup merasakannya.

“Termasuk 7 (tujuh) kali perkosaan, mulai dari pelaku, masyarakat, pendamping korban, agama (institusi/individu), polisi, pengadilan, dan media.”

Meledak (Lagi)

Iyah, bener, ranah perjuangan paling sulit tu emang di keluarga. Bukan karena mereka lebih tua, jadi lebih konservatif atau lebih kolot. Karena setau gw si secara pengalaman dan pengetahuan keluarga gw lumayan terbuka, berkembang, dan moderat. Untuk beberapa isu misalnya pelan-pelan bisa gw diskusiin dan kami bisa menemukan kesepahaman meski kadang ga mudah. Tapi mungkin karena nilai yang udah terinternalisasi sebelumnya, akhirnya perubahan yang gw bawa menjadi parsial.

Coba, gimana caranya ngejelasin ke ortu lo, bahwa menikah atau tidak itu adalah pilihan. Bahwa memiliki keturunan itu juga pilihan. Bahwa tinggal bersama dengan pasangan tanpa pernikahan itu juga pilihan.

Pusing ga si, kalo kondisi lo yang belum menikah, itu dirasakan beban oleh ortu lo. Omongan-omongan kayak

“Mama udah tua lho, kamu ga kepengen ngeliat Mama gendong cucu dari kamu?”

“Si Ibu A, meninggal kemarin, padahal usianya lebih muda dari Mama. Tapi dia si udah tenang karena anaknya udah menikah semua.”

Terus soal nikah ga nikah dll itu yang disalahin apa, karena kerjaan gw, karena dunia gw, karna lingkungan gw.

Eitz,,, ga Cuma masalah nikah, masalah gula darah gw tinggi juga yang disalahin kerjaan gw. Soal makan ga teratur lah, stress lah, istirahat ga cukup lah.

Ok, yang terakhir ini mungkin bukan soal perjuangan. Tapi ketika beban kerja dan pikiran lo udah berat, apa si yang lo butuhin? Sekedar dukungan. Dukungan atas pilihan yang udah lo buat, atas langkah yang udah lo ambil, dukungan untuk ngejalanin konsekuensi-konsekuensi dari keputusan-keputusan itu.

Mungkin di sisi lain gw juga harus refleksi, apa yang udah gw kasih untuk keluarga gw. Dan kalau keluarga gw menghitung tentang apa yang gw kasih itu ga jauh-jauh dari materi, ya mereka juga korban dari sistem kapitalistik ini yang emang ngukur semua-semua dari materi.