….

Aku mengecewakannya.

Lagi dan lagi, tak henti-henti kutubi dia dengan kecewa

Saat kakinya akan melangkah menuju perjuangan yang ingin ia raih

Egoku terus melawan meskin hatiku terasa perih, kembali harus berhadapan dengan kecewanya

Dia marah. Aku tahu, tanpa pun dia beri tahu. Tapi dia pun tegas berkata begitu

Aku dengar gemetar suaranya yang disampaikan kabel entah berapa ratus meter

Aku rasakan amarahnya meski wajahnya tak Nampak di hadapanku

Sesal tentu datang

Seharusnya tak kuucap langsung kata tidak itu,

Biarkan surga telinga kucipta, meski kubuat untuk nantinya kuruntuhkan sendiri

Ah percuma saja

Toh ujung-ujungnya aku hanya bisa membuanya kecewa

Ketika benar baginya bukan benar bagiku

Ketika dia ingin aku bahagia, tapi dengan cara yang dia tidak tahu itu akan membuatku tidak bahagia

Mungkin dia berharap aku kembali kecil

Hidup di dalam dunia mungil, di bawah penjagaannya

Mendengarkan setiap perkataannya, percaya, dan memiliki ingin sederhana

Bukan seperti sekarang,

Kerap mengejutkannya dengan kalimat-kalimat tak terduga

Dan ujung-ujungnya membuat dia kecewa.

Cinta saja tak cukup

Kasih sayang kadang berbenturan dengan kepercayaan dan perbedaan

Bisakah kita beda?

Bisakah aku hidup dengan orang yang berbeda?

Bisakah beda tidak membuat kecewa?

Aku pun kecewa

Entah pada siapa

Tak Bernama

Ada hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan dalam hidup ini. Perasaan. Sedih, marah, khawatir, cemburu, senang,  bahagia, cinta. Dari semua itu yang bisa kita kendalikan hanyalah manifestasinya. Mengangkat dagu seraya berkata pada dunia aku baik-baik saja. Mengembangkan senyuman lebar dan menertawakan kehilangan. Atau sebaliknya. Berwajah datar ketika hati bergejolak senang. Berbicara tenang, padahal degup jantung hampir mengalahkan suara itu sendiri.

Tapi rasa itu. Tetap ada. Bersarang, mengisi setiap rongga hati. Kadang memberi semangat, kadang menggerogoti. Diredam setengah mati oleh logika sepanjang hari. Tapi di malam hari ketika kita sendiri. Di dalam sunyi, mereka muncul mengganggu tidur. Dalam bentuk air mata, atau senyum yang tak lagi bisa ditahan.

Rasa

Kehadirannya membuat hidup lebih berwarna.

Tapi bagaimana jika rasa tak diberi tempat. Baru hadir sejenak, dia ditumpas oleh logika. Ketika pikir mengalihkan dengan segudang pekerjaan yang tiada henti. Rasa itu bahkan tak bernama. Tak tahu apakah dia sedih, bahagia, atau patah hati. Nama-nama itu teredam tak mampu didefinisikan. Dia menjadi laten tak terungkapkan, bahkan tak bernama.

Haya saja, sebuah lagu bisa membuatmu menangis tanpa kamu tahu kenapa

Hanya saja, mulutmu menceracau tak terkendali tanpa kamu tahu kenapa

Hanya saja, kamu hanya ingin sendiri tanpa kamu tahu kenapa

Rasa itu tetap ada, tetap tak bisa dikendalikan, tetap mempengaruhi setiap langkah kehidupan

Meski dia tak bernama

Mencari Mood

Aku mencarimu

Di antara deretan kalimat di dunia maya

Kucoba selami berbagai akun yang kupunya

Twitter

Facebook

Path

Bukannya kamu yang kutemukan,

Malah pertanyaan tentang dia, tentang aku, tentang kami, dan kata apa yang bisa merangkai tiga tentang itu.

 

Aku mencarimu

Berulang kali mencoba kembali

Buka tutup berbagai dokumen dan deretan tulisan yang pernah kuketik

Kubaca lagi, kuhapus lagi, hambar

Malah menuntunku pada sejumlah dokumen yang harus kuisi, dan deadline pengirimannya sudah sejak bulan Juni

 

Aku mencarimu

Hanya tuk selesaikan satu halaman dari beberapa halaman yang sudah selesai kuisi

Agar dia menjadi dokumen utuh yang seharusnya sudah kukirim sejak beberapa jam yang lalu

Aku butuh sedikit saja sentuhanmu. Sedikit saja. Tuk selesaikan kewajiban yang membuatku bermalam di kantor di hari kerja pertamaku setelah libur lebaran.

 

Aku mencarimu

Dan ini upaya terakhirku sebelum menyerah. Berharap lincahnya jemariku yang menyusun kata-kata di dalam tulisan ini, akan berpindah pada dokumen yang hampir jadi.

Siang Hingga Sore Tadi

sebuah catatan kecil dari sidang putusan kasus perkosaan terhadap YF oleh empat orang petugas transjakarta (Selasa, 8 Juli 2014)

Kemarin malam itu, hanya sehari lebih beberapa jam menjelang pilpres. Saat tulisan sahabat saya tersebar begitu luas, mendapatkan tanggapan, dukungan. mewarnai timelineku dengan ratusan mention yang menyeruak berani di antara capres-capresan.

Tadi siang hingga sore, hanya beberapa jam menjelang Pilpres. Ketika mereka datang satu per satu. kawan lama, kawan baru, dari berbagai profesi, termasuk juga media. jumlahnya banyak. terbanyak sepanjang kasus ini berjalan di pengadilan

mereka hadir sejak pk 12.30. menunggu dengan sabar meski sidang yang dijadwalkan pk13 itu baru mulai pk 17.13. meski ruang sidang kerap berganti beberapa kali, dan berakhir di ruang sidang yang sangat sempit. meski di sidang sebelumnya jaksa menuntut dengan angka teramat kecil

ada yang bilang hakim sengaja menunda putusan berjam-jam agar media tak lagi meliput, massa tak lagi ikut. ada yang bilang hakim membacakan putusan dengan teramat pelan dan gemetaran lagi-lagi untuk menghindar media. ada yang bilang sidang ditunda karena putusan seketika diubah, melihatnya banyaknya media dan massa pendukung yang datang. Ada yang bilang jika saja KITA tak ada, maka bisa jadi putusan hakim berbeda. bisa jadi putusan hakim menyatakan keempat pelaku perkosaan di transjakarta itu tidak bersalah.

Apapun itu, yang jelas hari ini saya melihat ketulusan. saya melihat harapan. saya melihat perjuangan, dan kobaran semangat untuk melawan.

Terima kasih YF, seorang perempuan pemberani yang memilih untuk tidak diam, perempuan hebat yang memilih untuk melangkah tegap. mengajarkanku, menggerakan kami, membuatku merasakan semangat dan harapan

Kita tidak kalah, kita sudah melawan dan akan terus melawan

Keempat terdakwa diputus dengan hukuman penjara 1,5 tahun dipotong masa tahanan. Sesuai dengan tuntutan jaksa, yang kami sangat kaget, ketika tuntutan itu dibacakan. Putusan dan tuntutan itu sangat tidak sebanding dengan trauma yang dialami korban.Entah sampai kapan keberanian korban kekerasan seksual terus dibungkam oleh peradilan yang tidak adil bagi mereka. 

Bukan Sekedar Relawan

IMG-20140705-WA0032     

Ini pertama kalinya aku menangis karena memikirkan Negara

Selama 26 tahun aku tumbuh di negeri ini. Makan dari tanahnya, minum dari samuderanya (meski di waktu-waktu belakangan ini kita dibanjiri oleh produk import). Semestinya menjadi alasan yang begitu mudah untuk mencintai Indonesia.

Ya, aku mencintai Indonesia lewat kaca mata seorang Ibu, perempuan, single parent, yang berjuang keras untuk mencukupi kehidupan dia dan kelima anaknya. Aku mencintai Indonesia lewat kacamata sepasang pemulung yang menyaksikan hujan kembang api di malam tahun baru, sementara ketiga anak mereka tertidur di dalam gerobak. Aku mencintai Indonesia lewat belaian seorang Bapak gelandangan yang di malam hari berusaha mendekap erat agar anaknya tetap hangat meski tidur di pinggir jalan. Aku mencintai Indonesia lewat air mata perempuan buruh migran, yang meski terus menerima hinaan, meski menahan berjuta kerinduan, tetap bertahan hingga si buyung dan si upik bisa sekolah.

Aku mencintai Indonesia, tidak dengan Negara yang berarti penguasa. Nyatanya rakyat lebih pintar, lebih hebat, lebih bekerja keras jauh dari mereka. Nyatanya rakyat berjuang sendiri seraya tetap menggaji orang-orang yang kerjanya hanya menghasilkan sampah pembangunan. Mengeruk keuntungan kemudian menggusur. Mendapatkan jabatan kemudian membiarkan rakyat yang sakit tak bisa berobat, anak-anak tak bisa sekolah.

Aku tak percaya pada Negara

2004, ketika teman-teman sekolahku sudah bisa memilih, memamerkan jari mereka yang berhias tinta ungu. Sementara usiaku kurang beberapa bulan tuk mencapai 17. Jangankan iri, peduli pun tidak. Buat apa? Toh tak ada pilihan yang patut kupilih.

2009, hak pilih sudah kumiliki. Berangkat ke TPS, membuka surat suara di bilik, lalu dengan mantap menyilang gambar ketiga pasang kandidat. Kugunakan hak ku dengan tuntas. Tak sudi surat suaraku disalahgunakan, meski dia tak akan masuk hitungan.

Lalu ada yang berbeda di 2014. Ada yang mengubahku melalui sebuah konser yang kuhadiri sekedar tuk menikmati musik dari artis-artis yang kusukai. Ada yang berdesir di dalam dadaku ketika sang master of ceremony mendengungkan “Apakah kalian semua siap untuk mendukung orang baik?” Aku terhentak. Pilihan golput yang sempat aku putuskan tiba-tiba goyah oleh satu kalimat.

 IMG-20140606-WA0001 (1)

Perwakilan Serikat PRT Sapu Lidi Jakarta. Mereka menyumbang 'koin untuk Jokowi.' di visi misi Jokowi JK lah tertera perlindungan PRT dan UU Perlindungan PRT. 'Koin untuk Jokowi' juga disumbangkan di wilayah lain seperti Semarang, Jogja, dll, bertepatan dengan tanggal 16 Juni, Hari PRT Internasional

Perwakilan Serikat PRT Sapu Lidi Jakarta. Mereka menyumbang ‘koin untuk Jokowi.’ di visi misi Jokowi JK lah tertera perlindungan PRT dan UU Perlindungan PRT. ‘Koin untuk Jokowi’ juga disumbangkan di wilayah lain seperti Semarang, Jogja, dll, bertepatan dengan tanggal 16 Juni, Hari PRT Internasional

Keputusanku berubah semakin mantap. Tak hanya oleh sang MC dan pengisi acara di konserRock The Vote. Tetapi juga oleh para Pekerja Rumah Tangga yang di 16 Juni menyumbang koin untuk Jokowi. Oleh keluarga korban penculikan 1999 yang berorasi dan berpuisi di aksi kamisan ketiga ratus sekian kali. Oleh para oma korban 65 yang tetap hadir memperjuangkan keadilan. Oleh para tukang becak yang mengayuh becak mereka sejak pagi demi bergabung di Konser 2 jari.

IMG-20140705-WA0012

Rombongan tukang becak yang beriringan menuju GBK.

 

 

 

 

 

 

 

 

Marcus Siahaan keponakan dari Ucok Siahaan salah satu korban penculikan 98, berorasi di aksi Kamisan. Dia bilang: Negara ini bodoh membiarkan seorang pelanggar HAM menjadi capres

Marcus Siahaan (10 tahun) keponakan dari Ucok Siahaan salah satu korban penculikan 98, berorasi di aksi Kamisan. Dia bilang: Negara ini bodoh membiarkan seorang pelanggar HAM menjadi capres

 

Keputusanku juga kuambil melalui visi misi kedua pasang kandidat yang kucoba lumat habis-habisan. Melalui pernyataan demi pernyataan di debat kandidat maupun timses. Melalui kampanye yang kucermati, dokumen yang kupelajari.

perempuan               Buruh Migran

Ya, aku bergabung dengan mereka. Para relawan dan juga reLAWAN. Orang-orang yang membuat aku bangga berIndonesia. Membuatku berpikir lebih tentang Negara.

Mataku yang cengeng terlalu sering menangis. Dia menangis ketika membaca kisah picisan kakak-kaakkku yang kubaca diam-diam di diary mereka. Dia menangis ketika sebuah lagu mengumandangkan lara. Dia menangis marah mendengar tutur seorang korban perkosaan yang kerap disalahkan karena pakaian. Dia menangis geram mendengar seorang perempuan, buruh migran yang diperkosa majikan, malah dituduh zina dan harus melahirkan di penjara. Dia menangis ketika sosok seorang Ibu yang ditemui di luar sana membuncahkan kerinduanku kepada Mama.

Tapi mataku tak pernah menangis karena memikirkan Negara

Tapi pagi ini, mataku kembali menuangkan air mata. Atas emosi yang tercampur melalui berbagai gambar. Gambar wajah-wajah yang bergabung di GBK kemarin. Tua, muda, apapun profesi mereka. Datang dengan kesadaran tanpa bayaran. Tergerak atas kepercayaan akan harapan. Mereka percaya Indonesia berhak mencapai titik terang. Mereka membuatku percaya, mungkin bukan pada Negara, tapi pada kekuatan rakyat, suara rakyat, kehendak rakyat yang melawan.

Gambar itu mereda sejenak, saat mimpi semalam kembali teringat. Peluru, rumah sakit, dan kerinduan pada keluarga. Silahkan terjemahkan dengan bebas jalinan apa yang tengah muncul di dalam tidurku semalam. Dia muncul setelah berbagai kabar mengenai intimidasi. Dari Aceh hingga Timika. Mimpi itu datang setelah kabar kisruh Pemilu kuverifikasi melalui beberapa akun terpercaya, dan sumber langsung.

Untuk pertama kalinya aku menangis memikirkan Negara. Menangis bukan berarti takut, namun hati dan diri sudah harus siap siaga. Seperti yang kutulis di atas, aku bergabung bukan hanya dengan para relawan. Tetapi juga reLAWAN.

10511202_10152538775743258_1339958038626493935_n

Saya memahami bahwa Jokowi pun memiliki banyak sekali kekurangan. Pilihan saya diambil berdasarkan risiko terkecil yang saya coba hitung. Termasuk melihat track record, dan proses kampanye. Saya harap cara-cara mengedepankan dialog dan pelibatan masyarakat yang selama ini tercermin bisa kembali terwujud apabila ia memimpin negeri ini.

saya pilih dia, karena dia tidak sendiri,