Damai Tak Berarti Tanpa Keadilan

Terinspirasi lagu Cahaya, diciptakan dan dibawakan oleh Asfinawati.

Lagu Cahaya yang diciptakan dan dibawakan oleh mantan Direktur LBH Jakarta dalam album untuk Munir sebenarnya sudah sering kudengar. Aku menyukai musiknya yang nge-blues, yang berpadu dengan suara Mbak Asfin yang berat dan dalam, serta liriknya yang bertutur dalam, dilengkapi dentingan pianonya yang indah.  Tak heran lagu ini sempat kuputar berkali-kali, saat berbagai pemikiran tentang bangsa ini membuatku gundah gulana. Namun entah kenapa, kali ini lagu yang sama membuatku berpikir lebih dalam. Khususnya pada kalimat damai tak berarti tanpa keadilan.

 

Damai Tak Berarti Tanpa Keadilan

Seringkali kedamaian yang  diterjemahkan dengan tidak adanya pertentangan justru menghasilkan pelanggaran Hak Asasi Manusia. Atas nama stabilitas sosial, hukum dikesampingkan lalu muncul Penembak-penembak Misterius (Petrus). Adakah keadilan bagi mereka? Bukankah hukum mengenal asas presumption of innocent (Praduga tak bersalah)? Sementara yang ditembak itu, yang kehilangan nyawa itu, tak  bisa lagi ditanya. Lalu bagaimana dengan keluarga mereka? Yang menunggu ayah, anak, kakak, adiknya pulang. Namun yang datang tinggal tubuh tak bernyawa, tanpa bisa ditanya.

Damai Tak Berarti Tanpa Keadilan

Lagu ini memang diciptakan untuk mengenang Cak Munir. Tak hanya namanya yang berarti cahaya, namun memang selama hidupnya Munir telah menjadi cahaya bagi banyak orang. Berbicara tentang damai tanpa keadilan, mungkin sang damai bukan saja tak berarti. Namun bisakah kita damai tanpa keadilan? Aku, kamu, mungkin bisa hidup tenang dan damai. Tapi bagaimana dengan Mbak Suciwati, bagaimana dengan kedua anak Munir? Bagaimana dengan orang-orang yang kehilangan cahayanya? Orang-orang yang tidak akan pernah rela, sang pejuang pergi begitu saja. Sementara pembunuhnya masih berkeliaran begitu saja. Tanpa kejelasan, tanpa keadilan.

Damai Tak Berarti Tanpa Keadilan

Ya, bagiku, tanpa keadilan berarti tak ada kedamaian. Aku, dan mungkin juga banyak orang lainnya di tanah ini, tak berhenti gelisah. Peristiwa 65, masihkah kau ingat? Peristiwa yang sudah lama berlalu, namun bagiku masih menyimpan tanda tanya, bahkan ambisi. Mungkin kamu sudah lupa. Saat itu jutaan manusia, petani, nelayan, buruh, seniman, sastrawan, dibantai tak bersisa. Kepala mereka dipenggal, karya mereka dibakar. Jutaan keluarga kehilangan anak, suami, istri, adik, kakak, yang banyak di antara mereka tidak tahu menahu tentang politik. Apalagi peristiwa di Jakarta yang tanahnya saja tak pernah mereka injak.

Lalu jutaan lainnnya mendekam di penjara, tanpa pernah diadili, tanpa pernah ditanya, tanpa pernah tahu, apa salah mereka. Mereka juga dipukuli, disiksa, diperkosa, dan dicabut dari kehidupan sosial mereka. Sementara hinaan dan diskriminasi seumur hidup dialami juga oleh keluarga mereka. Stigma PKI yang menyeramkan, yang tak berteman, yang dijauhi, yang kehilangan akses pendidikan, pekerjaan, kesehatan, dan banyak pelanggaran hak lainnya.

Mungkin banyak di antara kita telah lupa. Hidup telah berganti, waktu berlari begitu kencang, meninggalkan aroma darah yang telah menguap habis. Namun apakah ada damai bagi mereka yang keluarganya hilang tak berjejak? Apakah ada damai bagi mereka anak cucunya dipaksa menonton film propaganda, dipaksa belajar dari buku putih yang menakut-nakuti kita bertahun-tahun lamanya, terhadap 3 huruf. P, K, dan I. Sementara reformasi ini begitu palsu. Reformasi ini yang membakar ribuan buku sejarah hanya karena tidak mencantumkan PKI di dalam bab berjudul G 30 September. Reformasi ini yang mengeluarkan kebijakan pelarangan buku Dalih Pembunuhan Massal John Roosa, yang mencoba memberikan sudut pandang lain tentang peristiwa 65.

Maka di tengah refomasi yang pengecut ini, tak ada keadilan. Maka tanpa adanya keadilan tak ada kedamaian.

Kali ini kumengerti, maaf bukan berhenti. Damai tak berarti tanpa keadilan

(Asifinawati, Cahaya)

About these ads

One response to “Damai Tak Berarti Tanpa Keadilan

  1. Ping-balik: Damai Tak Berarti Tanpa Keadilan | IHRBA | Indonesian Human Rights Blog Award

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s