Pendidikan Seks untuk Anak

Gara-gara tadi pagi liat TL nya mbak @justsilly, aku jadi nge-googling seputar #SexEducation for Children. Kenapa penting? Ada beberapa alasan yang membuat sex education menjadi penting untuk diberikan sejak dini. Sex education bisa mencegah hal-hal yang terjadi apabila:

1. Anak kurang mendapatkan informasi terkait seks, bisa berdampak pada kehamilan yang tidak diinginkan, hingga penyakit menular seksual dan penularan HIV. Selain itu, juga mencegah pelecehan seksual, atau paling tidak membuat si anak tahu apa yang harus dilakukan apabila menjadi korban kekerasan seksual.

2. Anak justru mendapatkan bebagai informasi dari luar. Pada masa internet seperti saat ini, berbagai informasi mengenai seks tersebar di luar sana. Pencarian tanpa panduan, justru akan menyebabkan informasi-informasi yang masuk tidak diolah dengan tepat. Akan jauh lebih baik apabila anak mendapatkan informasi dari orang tua, guru, atau pihak lainnya, ataupun literatur yang tepat terlebih dahulu sebelum mereka ‘kebanjiran’ informasi dari luar sana. Dampak lebih lanjutnya, anak bisa mengalami kecanduan (video prono, bacaan porno, dsb). Padahal beberapa ahli mengatakan bahwa kecanduan pronografi lebih berbahaya dibandingkan kecanduan narkoba. pornografi dapat menyebabkan kerusakan pada lima bagian otak, terutama pada Pre Frontal Corteks (bagian otak yang tepat berada di belakang dahi).

Menurutku, ada dua poin penting terkait pendidikan seks. Pertama, bagaimana dia diajarkan sedini mungkin (sesuai porsinya yang nanti akan dibahas lebih lanjut). Kedua, bagaimana kita membongkar perspektif kita yang selama ini melihat hal-hal terkait seks sebagai ‘benda tabu.’

Pendapatku di atas muncul karena pengalamanku sendiri. (1). Waktu kecil, aku pernah mengalami pelecehan seksual. Saat itu aku diam saja, karena tidak mengetahui bahwa ‘itu’ adalah pelecehan seksual. à akibat ketiadaan pengetahuan mengenai seks. (2). Setelah dewasa pun, aku pernah kembali mengalami pelecehan seksual, namun tetap diam saja karena malu. à akibat hal-hal terkait seks dianggap tabu. (Terkait juga dengan kondisi patriarkis dimana perempuan dibebankan kewajiban lebih dalam menjaga dirinya terkait seks).

Oke, kita mulai dari mana ya, hmm, gimana kalo berdasarkan 5 W 1 H? Biar informasinya lebih jelas dan teratur, plus ga ngelebar kemana-mana. Jadi, berdasarkan beberapa literatur yang aku temukan di internet, beberapa hal yang bisa dirangkum adalah sebagai berikut:

1. Siapa

Siapa di sini, ada dua. Siapa yang pertama adalah siapa yang kita ajak berhak mendapakan pendidikan seks, yaitu si anak. Nah, lalu siapa yang memberikan? Di beberapa Negara pendidikan seks diberikan di sekolah, sehingga guru yang memberikan informasi tersebut. Namun, sebenarnya yang paling tepat untuk memberikan pendidikan seks adalah ORANG TUA. Selain karena orang tua yang sehari-hari berada di sekitar si anak, juga penting untuk anak memiliki dan menentukan seseorang yang bisa dipercaya untuk menanyakan masalah seks. Dan orang tua relatif paling tepat untuk dijadikan pihak untuk bertanya.

2. Apa

Apa si yang harus diceritakan terkait pendidikan seks? Pendidikan seks, tidak semata-mata mengenai hubungan seksual. Dia mencakup anatomi tubuh, termasuk alat kelamin, fungsi alat kelamin, pubertas, perkembangan bentuk tubuh terkait pubertas, fungsi reproduksi, dan proses reproduksi, juga proses terjadinya pembuahan hingga tumbuh menjadi bayi.

Lebih lanjut kita menjelaskan tentang hal-hal yang tidak diinginkan yang bisa terjadi, seperti kehamilan yang tidak diinginkan, penyakit-penyakit menular seksual, HIV, dan lain-lain. Kita juga bisa mengajarkan beberapa pedoman, apa yang boleh apa yang tidak. Misalnya tidak boleh ada seorangpun yang menyentuh alat kelamin kita, dll. Juga apa yang harus dilakukan apabila kita mendapatkan perilaku yang tidak menyenangkan dari orang lain.

Nah yang terpenting, beri mereka pemahaman secara bertahap, dan yakinkan mereka bahwa mereka bebas bertanya pada kita tentang apa saja, dan kapan saja, agar kita (orang tua) menjadi referensi pertama dan utama dari semua pertanyaan mereka terkait seks.

3. Di mana

Diskusi tentang seks, akan lebih nyaman dilakukan di dalam ruang privat. Pendidikan seks di sekolah meski dibutuhkan, tetapi tidak cukup untuk memberikan pemahaman yang lengkap sesuai kebutuhan anak-anak. Masing-masing anak memiliki reaksi, tingkat sensitivitas dan pengalaman yang berbeda terkait informasi seks. Karena itulah, orang tua memegang peran utama dalam memberikan pendidikan seks di rumah.

4. Kapan

Pertanyaan kapan adalah pertanyaan yang paling sering muncul untuk memberikan pendidikan seks pada anak-anak. Jawabannya bisa beragam.

“Pendidikan seks sebaiknya diberikan sejak mereka mereka mulai menstruasi atau sejak mereka mimpi basah,” ungkap dr Boyke Dian Nugraha. Sumber: kompas female.

“Pendidikan seks wajib diberikan orangtua pada anaknya sedini mungkin. Tepatnya dimulai saat anak masuk play group (usia 3-4 tahun), karena pada usia ini anak sudah dapat mengerti mengenai organ tubuh mereka dan dapat pula dilanjutkan dengan pengenalan organ tubuh internal,”

- Dr Rose Mini AP, M.Psi-

Sementara dalam sebuah artikel di betterhealth.vic.gov.au, dikatakan bahwa kita harus memulai membicatakan tentang isu-isu puberty pada saat anak usia 9. Lebih lanjut artikel itu menjelaskan, beberapa anak perempuan bahkan mulai mengalami perkembangan payudara sejak usia 8 tahun. Sementara, anak laki-laki butuh tahu tentang ‘unwanted erection’ dan mimpi basah, sebelum keduanya terjadi. Sehingga penting untuk mulai berbicara dengan anak perempuan ataupun anak laki-laki sebelum mereka ‘tumbuh’ dan mengalami perubahan tubuh.

Secara garis besar, pendidikan seks sebenarnya bisa dimulai sedini mungkin. Hanya saja, hars bertahap sesuai usia dan perkembangan pribadi mereka.

 

Balita (1-5 tahun)

Pada usia ini, kita bisa mulai memperkenalkan organ-organ seks miliknya secara singkat. Kita bisa memberitahu anatomi tubuhnya, seperti rambut, kepala, tangan, kaki, perut , juga penis dan vagina atau vulva. Lalu terangkan perbedaan alat kelamin antara miliknya dengan milik lawan jenisnya,

Pada usia ini anak juga sudah mulai bisa diberi pemahaman, misalnya bahwa alat kelamin tersebut tidak boleh dipertontonkan dengan sembarangan, atau apabila ada  yang menyentuhnya tanpa diketahui orang tua, maka si kecil harus berteriak keras-keras dan melapor kepada orang tuanya.

 

Usia 5-10 tahun

Pada usia ini, anak biasanya mulai aktif bertanya tentang seks. Misalnya pertanyaan dari mana ia berasal. Jawaban-jawaban yang sederhana dan terus terang biasanya efektif.

Misalnya : “Bu, adik berasal dari mana?” kita bisa menjawab dari perut ibu. Atau kita bisa tunjukkan seorang ibu yang sedang hamil dan menunjukan lokasi bayi di perut ibu tersebut.

Bisa juga ia bertanya, “Mengapa bayi bisa ada di perut?” Kita bisa menjawab bahwa bayi di perut ibu karena ada benih yang diberikan oleh ayah kepada ibu.

 

Usia Menjelang Remaja

Saat inilah kita mulai menerangkan mengenai haid, mimpi basah, dan juga perubahan-perubahan fisik yang terjadi pada seorang remaja. Seperti perubahan bentuk payudara, tumbuhnya jakun, atau akan aanya bulu-bulu yang tumbuh di sekitar kelamin.

Usia Remaja

Saat ini, kita perlu lebih intensif mendampingi anak-anak. Kita mulai berbicara tentang  hubungan seksual dan risiko yang bisa muncul. Seperti kehamilan tak terencana, dan dampak negatif yang akan timbul. Juga tentang penyakit menular seksual, dan lain sebagainya.

*Penting bagi kita untuk memberikan informasi secara bertahap kepada anak, agar ia bisa memahami secara menyeluruh keterkaitan antara fungsi organ, hingga hubungan seksual. Sehingga kita tidak membombardir mereka dengan seluruh informasi sekaligus yang justru akan mengakibatkan mereka hanya sebatas tahu, namun tidak paham secara tepat.

5. Bagaimana

Bagaimana cara memberikan pendidikan seks? Caranya bisa macam-macam, setidaknya ada beberapa poin yang bisa aku tulis di sini.

1. Salah satu cara menyampaikan pendidikan seksual pada anak dapat dimulai dengan mengajari mereka membersihkan alat kelaminnya sendiri. Hal ini, secara tidak langsung juga dapat mengajari anak untuk tidak sembarangan mengizinkan orang lain membersihkan alat kelaminya,

2. Tidak harus dilakukan dengan langkah yang formal, tapi bisa juga dilakukan saat santai ataupun sembari menonton televisi.  Cari beberapa momen dimana kita bisa mulai mengajaknya bicara. Misalnya, dengan menanyakan, apakah kamu pernah berpikir bagaimana kamu bisa lahir ke dunia? Atau kita bisa mencari kesempatan untuk membuka percakapan dengan mengomentari kerabat yang sedang hamil.

3. Jangan tunggu mereka bertanya. Banyak anak-anak yang malu untuk bertanya kepada orang tuanya terkait seks. Kitalah yang harus memberikan informasi awalan, dan membangun kepercayaan untuk si kecil bisa berdiskusi dan terbuka dengan kita mengenai seks.

4. Katakan/jawab dengan tegas, jujur dan sebenarnya. ketidaktegasan dalam memberikan jawaban justru akan membuat anak mencari informasi dari luar. Gunakan nama yang benar untuk penis dan vagina. Apapun pertanyaan yang diajukan, kita harus menjawab dengan jujur. Termasuk ketika kita tidak bisa menjawab atau merasa tidak nyaman dengan pertanyaan mereka, maka katakan dengan jujur dan beri mereka pengertian.

5. kita bisa menggunakan bahan-bahan pendidikan seks yang baik dan sesuai dengan usia mereka. Seperti buku, video, ataupun literatur lainnya.

Baiklah, sekian hasil berselancar pagi ini. Monggo lho, kalau mau dikoreksi dan ditambahkan. Semoga bermanfaat.

Yuk, jadi ‘orang tua’ cerdas, bahkan sebelum jadi orang tua!

Sumber-sumber:

Kompasfemale.com

tipsanda.com

majalah-lifestyle.com

episentrum.com

sweetspearls.com

tanyadokteranda.com

http://www.youtube.com/watch?v=aMf0WbB-F4I&feature=related

bettehealth.vic.gov.au

onlymyhealth.com

mayoclinic.com

smith-lawfirm.com

PS: untuk mencari-cari bahan pendidikan seks, bisa juga dengan membuka situs The Hormon Therapy, http://www.thehormonefactory.com/topic.cfm?categoryid=1&topicid=20

Peduli Hal Kecil Yuk

Pagi ini hujan turun dengan deras. Entah karena pengaruh hujan, atau apa, sopir angkutan umum yang kutumpangi menurunkan tiga orang penumpangnya di depan halte Kalibata mall, karena ingin memutar. Kami pun turun secara terburu-buru dan berlari ke arah halte yang penuh, sedapat mungkin menghindari hujan.

Tiba-tiba seorang Bapak berteriak, “Bu, itu dompetnya ketinggalan.” Lalu dengan cepat berteriak ke sopir angkutan umum untuk berhenti. Tanpa pikir panjang, aku pun ikut memanggil si sopir.seraya membuka tas dan memeriksa dompetku, yang ternyata…… Alhamdulillah ada.

Aku menengok ke seorang Mbak yang turun dari angkutan umum yang sama, dia pun bilang dompetnya masih ada. Aku pun mencari seorang Ibu yang turun bersama kami. Si Ibu  terlihat tenang-tenang, meski aku sudah menanyakan beberapa kali, dan penghuni sementara halte itu sudah ribut soal dompet yang ketinggalan, si Ibu masih terlihat tenang.

Meski demikian, Bapak yang tadi menyadari adanya dompet ketinggalan, berhasil menghentikan si sopir angkot. Dengan sigap, dia menyuruh seorang anak yang sedang ngojek payung, untuk mengejar dan mengambil dompet tersebut.

Tak lama, si Ibu yang tadinya tenang mulai terlihat cemas mengaduk-ngaduk isi tasnya. Maka ketika si ojek payung mendatangiku sambil membawa dompet, aku langsung menunjuk ke si Ibu. Tepat, dompet si Ibu pun kembali, dia lega.

Teman-teman, sejauh apa kepedulian lingkungan kepada kita? Hari ini aku belajar, bahwa saling peduli, membuahkan berkah yang manis. Hal kecil, namun bisa membantu besar untuk seseorang yang benar-benar membutuhkannya.

Mulai sekarang, peduli hal-hal kecil yuk :)

(Masih) Ada Harapan

 

Kemarin aku ke FHUI, sebuah kampus yang setiap sudutnya kujelajahi selama kurang lebih empat tahun. Tempat aku memasuki sebuah dunia yang berbeda dari dunia anak sekolahan, tempatku tak sekedar belajar hukum, tapi juga belajar hidup.

UI. mungkin banyak yang sudah mendengar kisah kisruh Universitas yang menyandang nama bangsa ini. untuku yang begitu mengenal dan mencintainya, UI masih menjadi sebuah institusi dimana aku merasa patah hati.

Tentu saja, empat tahun benar-benar tak cukup untuku mengenalnya dengan baik. untuk tahu betapa banyak pelanggaran dan korupsi yang dilakukan dari setiap pembanguna fisiknya. untuk memahami betapa banyak profesor pintar yang pikirannya begitu pendek. untuk tahu betapa banyak mahasiswa yang terlibat langsung dalam upaya komerialisasi pendidikan di negeri ini.

kembali ke soal kisruh UI, sudah lama aku tak terlibat, tak melihat, bahkan menghindar dari gembar-gembor yang keluar atas nama ingin menyelamatkan UI (baca: saveUI).

Aku hanya mengerenyitkan dahi ketika tahu bahwa ang Rektor memiliki prioritas kebijakan yang tak ramah bagi si miskin. Bahwa ia memilih membangun perpustakaan megah, jalur sepeda, kandang rusa, memindahkan pohon langka, yang menarik banyak dana dari mahasiswa, dan memungkinkan terjadinya korupsi dimana-mana.

Aku hanya menggelengkan kepala melihat para profesor dan pejabat kampus di MWA yang dengan lantang meneriakan otonomi kampus ala BHMN demi langgengnya kedudukan mereka.

Namun saat aku tahu, bahwa mahasiswa pun bernada sama. memilih berperan aktif mengingkari hak atas pendidikan yang tertera jelas dalam berbagai peraturan perundang-undangan, bahwa konstitusi negara kita. mengaku membela rakyat, namun melanggengkan status badan hukum, yang jelas dari aspek filosofis, yuridis, dan terlihat nyata dalam tataran sosiologis mencekik kantong anak bangsa. membuat banyak yang takut masuk UI. membuat banyaknya impian yang pupus begitu saja, demi melihat angka puluhan juta di kolom admission fee, dan 5-7,5 juta yang harus mereka bayar setiap enam bulan.

Aku tak bisa bereaksi. Syarafku terasa mati, aku patah hati.

Hingga hari kemarin, ketika aku melangkah kembali.

Tahun 1997, aku datang pertama kali ke kampusmu yang megah di Depok, terenyum dan berkata dalam hati, “aku akan kuliah di sini”

Tahun 2005, aku melihat namaku di koran, aku berhasil lulus SPMB, dan bersiap melewati tahun-tahunku bersamamu.

(masih) Tahun 2005, aku tersentak hebat, koran itu menunjukan biaya admission fee yang sangat besar, menimbulkan tanda tanya besar di hatiku, bagaimana orang tuaku bisa sanggup membayar jumlah itu.

(masih) Tahun 2005, aku ikut antre, menyerahkan sejumlah berkas, meminta belas kasihanmu, untuk memberiku keringanan, sekedar mencicil admission fee mu yang terlalu besar.

Tahun 2008, aku mendengar berbagai cerita, tentang cita-cita di ujung negeri sana, tentang ungkapan-ungkapan bersemangat, yang tiba-tiba patah, karena kamu meminta jutaan rupiah, untuk diserahkan setiap enam bulan.

(masih) Tahun 2008, aku tak mau putus asa, harapku ada pada kawan-kawanku, yang masih bersemangat, memperjuangkan mahasiswa baru, dan berani berteriak, demi perubahan kebijakan yang berpihak pada kami.

Tahun 2009 aku meninggalkanmu. namun hanya ragaku, hatiku, pikirku, tetap kucurahkan untukmu. meski aku bersedih, karena aku wisuda, tanpa nyanyian dari adik-adiku yang melepaskan impiannya, karena mahalnya hargamu.

Tahun 2011 muncul sebersit harapan. tentang orang-orang yang bersuara lantang, meneriakan #saveui. berbicara di media, aktif bergunjing di mimbar-mimbar.

(masih) tahun 2011, aku pusing bukan kepalang. berbagai kepentingan dimainkan, tak jelas, abstrak, absurd.

(masih 2011) aku tersadar, Institusi ini tak lagi memiliki harapan. tidak rektornya, tidak pejabatnya, tidak profesornya, tidak mahasiswanya. Bagiku, UI hanya menjadi bangunan kopong, yang segera kutinggalkan, membuatku melangkah pergi, tanpa harapan.

Tahun 2012, aku kembali menyentuh sudut-sudutmu, berusaha mengenag kemesraan kita, namun tidak berhasil. Semuanya tak lagi sama. Kamu, dengan perpustakaan hebatmu itu, yang bahkan memuat kedai kopi beromset 9 juta per hari, terasa terlalu angkuh untuku.

(Masih) Tahun 2012 aku bertemu dua orang adikku, mengejutkan, mereka membuatku merasa ada harapan. Mereka yang tahu persis apa itu hak atas pendidikan. Mereka yang mau berjuang, menyediakan waktu dan energi, demi UI yang tak hanya menampung, tapi juga menjadi tempat mewujudkan harapan.

Mungkin sinar harapan itu masih redup, aku tak peduli! Hari ini aku bisa mengangkat kepalaku, dan berharap lagi. :)

Berbagi Cinta

Hai para pembaca yang budiman, (aihh, kayak denger radio jaman dulu ya)

Selain blog ini, akhirnya aku memutuskan untuk membagikan tulisan-tulisanku di sebuah blog terpisah. Tulisan di sana bertema khusus: CINTA.

Aku sengaja memisahkan tema itu dari blog ini, bukan karena ingin terlihat sok serius atau menyembunyikan ke-menye2 ank. :p Karena bagaimanapun, selalu menyenangkan rasanya dikenal secara utuh, dari berbagai sisi.

Pemisahan tema Cinta semata-mata agar para pencari tulisan tidak kebingungan. Agar tulisan bertema hukum, sosial, maupun pembelajaran sehari-hari, tidak tertutupi oleh bacaan-bacaan ‘picisan’ tentang cinta. begitupun sebaliknya. Agar si ‘pencari cinta’ tidak lantas ‘nyasar’ ke tulisan tentang Ujian Nasional, atau pelanggaran kemanusian di tahun 65.

Jadi segala hal tentang cinta, akan kubagikan melalui:

http://ceritamagenta.blogspot.com/

sstt, jangan terkecoh. yang kamu baca, bisa jadi fakta, bisa jadi fiksi.

Selamat berbagi cinta :)

Resolusi 2012

Resolusi 2012 ku sederhana

Sekedar mengurangi waktu2 tidak produktif, dan mengalihkannya untuk dua kegiatan.

Membaca, dan menulis

Jadi, kurangin browisng2 ga penting setelah jam kantor. Cepet pulang, lalu lakukan aktivitas membaca dan menulis setelahnya.

Oh iya, dan satu lagi

Tempatkan segala sesuatunya di tempat yang benar

Urusan kantor di jam kantor, urusan lain di jadwal setelah jam kantor, dan bersenang-senang total di waktunya liburan, dan hangout bareng sobat2..

Mudah kan? ;)

22 Desember Tahun Ini

Aku tau aku sudah terlalu lelah saat ini. Tapi aku tidak bisa menunggu barang sekian jam untuk mengungkapkan apa yang aku rasakan.

Hari ini, tepat di hari ibu, seorang Ibu bercerita. Setiap tiga bulan, anaknya harus menjalani cuci darah. Terakhir, dokter menyatakan ginjal anaknya harus diangkat. Membutuhkan dana yang tidak sedikit, apalagi bagi sang Ibu, yang tidak memiliki penghasilan tetap. Puluhan juta tentu saja menjadi angka yang besar baginya.

Sepanjang dia bercerita, aku hanya bisa menatapnya. Melihat beberapa kerut di matanya, di wajah yang usianya tak terlampau jauh dari kakak pertamaku.

“Tapi kalau buat anak mah, jual rumah juga saya lakuin, yang penting bisa menyembuhkan anak saya,” ungkapnya.

Sawahnya sudah terjual, tanah miliknya pun Januari depan, akan lepas ke tangan orang.

Dia masih ingat beberapa waktu lalu, ketika harus membayar biaya rumah sakit anak. Dia datang ke ‘bank keliling,’ karena tidak tau harus ke mana lagi. Memohon kepada bank keliling untuk memberinya pinjaman Rp2juta. Yang sempat ditolak karena waktu buka bank keliling sudah usai.

Lalu uang 2 juta berhasil didapat. Tidak, bukan 2 juta, karena ‘aturannya’ harus dipotong 300 ribu. Sang Ibu pun hanya menerima 1,7 juta. Dan yang harus dikembalikan, tak kurang dari 2,4 juta, yang harus dicicil langsung per minggunya sebanyak 200 ribu. Terpaksa dia mengembalikan 700 ribu lebih besar dari yang ia dapatkan. 700 ribu seharga obat yang harus selalu diminum anaknya untuk 7 hari.

Matanya meredup ketika dia bercerita, suatu malam anaknya menghampiri sang Ibu yang tengah berdebat dengan suaminya. Berkata,” Kalau Mama sudah tidak ada uang, saya tidak usah diobatin, Mama nungguin aja, saya sudah senang. Biar uang yang ada untuk masa depan adik.” Seketika sang Ibu menangis, memeluk anaknya, menegaskan bahwa dia akan tetep terus berjuang untuk kesembuhan anaknya.

Dan sang Ibu memang terus berjuang. Seorang mantan Buruh Migran, yang tau persis berbagai kerentanan yang dialami Buruh Migran, yang kisahnya selama ini selalu menjadi pembelajaran. Karena dengan pengalaman dan semangatnya, dia berhasil membantu banyak Buruh Migran lainnya, menangani berbagai kasus, melalui organisasi yang didirikannya. Namun untuk anaknya, dia siap untuk kembali bekerja keluar negeri. Meski harus menempuh berbagai kerentanan, yang dia tau persis, dia pernah alami, dia pernah saksikan, dan sering dia perjuangkan.

Pernah dia berpikir, rasanya ingin mendonorkan ginjalnya untuk anaknya. Namun kawannya mengingatkan, bahwa dia adalah tulang punggung keluarganya. Bahwa dia yang selalu banting tulang mengerjakan apa saja secara serabutan, menghabiskan energi, dan pikiran untuk keluarganya. Secara ekstrim sang kawan berkata, “lo bunuh seluruh keluarga lo kalo melakukan itu. “

Dan yang menakjubkan, aku masih bisa menemukan sinar di wajahnya. Dan seulas senyum, ketika dia becerita, anaknya sudah terlihat lebih baik setelah ke dokter terakhir, tubuhnya tak lagi membiru, dan itu cukup. Cukup membuat sang Ibu tersenyum, cukup memberikannya dua kali lipat semangat, untuk bekerja lebih keras lagi. 

Sebentar setelah sang Ibu selesai bercerita, aku kembali berhadapan dengan Ibu-Ibu lainnya. Satu di antara mereka, juga seorang mantan Buruh Migran. Dia berangkat ke luar negeri, sebuah Negara dimana dia mengira penduduknya baik, karena beragama islam.

Suatu ketika, dia dibuat tidak sadar dengan obat tidur, lalu diperkosa. Dia juga disiksa hingga tidak bisa jalan, patah bagian punggung dan kaki. Sampai sempat tak bisa berjalan.

Lalu, dia malah dipenjara. Dia yang diperkosa, malah dituduh berzina. Melahirkan di penjara, mempertahankan mati-matian anaknya yang ingin ‘dibeli’ oleh sang pemerkosa. Melawan sakit akibat penganiayaan yang diterimanya. Semua dijalaninya di dalam penjara.

Dan aku merasa tak bisa bernafas. Ketika sang Ibu menceritakan proses persalinannya di penjara.
Dia yang tak bisa jalan, apalagi kabur,

Melahirkan, dalam keadaan kaki diborgol kanan dan kiri. Begitu pula tangannya.

Hffff *ketika menuliskannya, aku sekali lagi menarik nafas begitu panjang.

Tuhan izinkan aku menangis lagi malam ini. Sebentar saja. 
Karena esok, aku akan melangkah lebih tegap, dan bersuara lebih lantang

Bekasi, 22 Desember 2011

Balon-balon di Udara

 

Hey, kamu liat balon-balon yg terbang di udara itu?
Itu adalah aku
Yang terbang mengangkasa tinggi tanpa batas
Aku tak sendiri, bergandengan tangan menembus awan-awan putih

Beberapa dari kami sewarna
Namun banyak warna membuat kami semakin kaya
Maka yg biru, yg merah yg hijau
Juga yg jingga, merah muda, kuning, dan ungu
Warna warni memang berbeda
Tapi satu yg sama
Kami terbang ke arah satu tujuan, satu impian

Maka maafkan aku
Meninggalkanmu jauh di bawah
Karna bagiku
Cinta hanyalah nomor kesekian

Payudara dan Rok Mini

Beberapa waktu yang lalu, pemberitaan ramai oleh sosok Malinda Dee. Yang menggondol uang nasabah Citibank. Pemberitaan terus bergulir, dan akhirnya yang membuat ramai justru bukan kejahatannya melakukan penipuan dan pencucian uang yang mengakibatkan sejumlah pihak mengalami kerugian

Lucu sekali, bahwa akhirnya pemberitaan menjadi ramai membicarakan seputar kehidupan pribadi Malinda Dee, dari mulai soal mobilnya, pacarnya yang berondong dan artis, sampai soal yang sifatnya (menurut saya) pribadi terkait ukuran dan operasi payudara yang dia lakukan

Pertama kali mendengar itu, saya hanya bergumam, kurang kerjaan amat si media ngeberitain ukuran payudara? Tapi anehnya, sepertinya memang ukuran payudara menjadi daya tarik jauh lebih besar daripada tentang penipuan yang dia lakukan.

Nyatanya, media semakin banyak memberitakan soal payudara, dengan segala embel-embel gosipnya, hingga media gossip pun tidak mau ketinggalan.

Yang (menurut saya) lebih parah lagi, adalah celetukan-celetukan tidak terkendali di media sosial. Dari mulai nada heran, mencibir, menertawakan, bahkan menjadikannya bahan becandaan yang tak pantas

Lalu belakangan muncul charity palsu, dengan Fifi Buntaran sebagai tokohnya. Charity palsu tersebut ditampilkan di sebuah stasiun televisi swasta, dengan menampilkan konsep lelang untuk amal. Yang nyatanya, lelang itu palsu, tidak ada satu rupiah pun yang diberikan kepada Nando (Seorang anak penderita gagal ginjal, dan infeksi usus) atau mungkin yang membutuhkan lainnya.

Saya mengangkat Malinda Dee, dan Fifi Buntaran bukan lantaran keduanya berteman. Namun karena keduanya mengalami hal yang mirip. Isu tentang charity palsu akhirnya bergulir ke masalah payudara. Setidaknya hal itu dimunculkan sebuah akun yang sekarang ditutup (ditutup karena Indonesia kalah lawan Malaysia di final, bukan karena Fifi Buntaran). Akun twitter anonim tersebut membicarakan soal Fifi Buntaran terkait payudaranya, tak lupa mengaitkan dengan Malinda Dee. Lalu karena akun itu memiliki banyak follower, maka banyak orang lainnya yang yang ikut memperbincangkan payudara Fifi Buntaran.

Saya tau kok! penipuan itu memang kejahatan yang merugikan banyak orang

Saya juga benci banget sama amal palsu, penipuan yang bener-bener menyakiti nurani dan kemanusiaan kita.

Tapi soal payudara besar, asli ataupun palsu, itu adalah otoritas si empunya.

Terserah dia donk mau operasi atau nggak, selama dia tau risikonya apa, dan menjadi pilihannya sendiri untuk operasi, terus kenapa harus heboh?

Operasi plastik bukan tindak kejahatan kan?

Itu hak, karena perempuan memiliki otoritas penuh atas tubuhnya, dan kami punya kontrol penuh terhadap tubuh kami.

*mengutip tweet seorang kawan

Jadi Malinda Dee, (diduga) bersalah karena menipu atau karena payudaranya?

Ratu Atut (dianggap) bersalah karena korupsi atau karena bedaknya yang tebal?

Lalu, dalam konteks sedikit berbeda, namun sesungguhnya memiliki benang merah, kejadian perkosaan yang terjadi di dalam angkutan umum tempo hari.

Dimana reaksi gubernur yang mengaku ahli tapi nyatanya Jakarta malah semakin semerawut, malah menghimbau perempuan untuk tidak menggunakan rok mini.

Lagi-lagi ini soal otoritas tubuh perempuan,

Jadi yang merupakan tindak pidana itu apa?

Pakai rok mini?

Atau tindakan memperkosa??

Tanggung jawab dan kewajiban untuk menjaga syahwat itu ada pada diri Anda sendiri. Dalam hal ini, yang harus dijaga adalah nafsu untuk tidak melakukan perbuatan memperkosa. Bukan soal pakai rok mini, atau gamis.

Selama ini, perempuan selalu dibebankan tanggung jawab untuk “menjaga kehormatan.” Tapi kalau seorang perempuan menjadi korban perkosaan, lalu kehormatan siapa yang sebenarnya pantas hilang? Korban yang ga pernah mau apalagi minta untuk diperkosa, atau pelaku yang memperkosa??

Budaya kita yang menganggap seksualitas itu tabu untuk dibicarakan juga mengambil andil dari bungkamnya perempuan korban kekerasan, terutama kekerasan sekual.

Berapa banyak perempuan yang mengalami pelecehan seksual di tempat umum, bahkan diperkosa bungkam?

Kenapa? Karena malu. Karena takut masyarakat malah menyalahkan mereka, dan paling parah menganggap mereka ‘tidak suci.’ Tanpa itu semua, trauma yang harus diatasi sudah sangat hebat. Tanpa dipersalahkan pun hati mereka sudah terluka luarbiasa.

Sedini mungkin, anak perempan harus diajarkan tentang haknya. Bahwa tubuhnya adalah milik mereka, hak mereka, otoritas mereka. Bahwa tidak seorang pun berhak mengatur tubuh mereka,. Bahwa tidak ada seorang pun berhak menyentuh mereka dan membuat mereka tidak nyaman. Bahwa mereka berhak berteriak ketika mereka merasa tidak nyaman.

Bahwa yang harusnya malu adalah pelaku kekerasan seksual, bukan mereka!

24

sumber: http://ranadiamond.blogspot.com/2010_12_01_archive.html

Aku cemberut

Takut ga bisa main boneka lagi

Takut ga bisa berceloteh riang dan tertawa dengan ekspresi selepas anak-anak

Takut ga bisa manja-manja sama mama lagi

Takut ga bisa merajuk manja, ke temen-temen

Takut status bungsu dimana-mana (kantor, temen main, dll) akhirnya ilang

Takut ga bisa hang out sembarangan, belanja barang2 penting ga pake mikir

Hfffff.

Tapi,,

Bagaimanapun adanya aku

Aku yakin, segala kasih sayang, perhatian dan kebahagiaan  akan senantiasa tercurah untuku. Masih bisa main boneka, ceriwis manja, ngerajuk biar dapetin yang aku mau, dan hangout kemanapun aku mau, ga peduli berapapun umurku. Dan tetep bisa jadi adik kesayangan, walau udah ga bungsu lagi :p

Jadi,,

Selamat datang 24,

Selamat datang di hidupku yang selalu menarik dan menyenangkan

Aku Berani! ;)

Apa yang Kamu Pikirkan Ketika Mendengar ‘G 30 S 65′?

Apakah kamu satu generasi denganku? Generasi dimana setiap tahunnya kamu dicekoki film propaganda yang saat itu menunjukan kebengisan sekelompok orang terhadap enam orang jenderal dan beberapa orang lainnya. Kesadisan perempuan-perempuan yang menari sambil mencabut kuku satu per satu dan mencongkel mata manusia.

Film penuh kebohongan yang setiap tahun terus menerus wajib ditonton. Dan kebohongan itu juga diabadikan dalam sebuah monumen yang berdiri tegak di kawasan Pondok Gede, tak jauh dari rumahku.

Tahukah kamu?

Bahwa kebohongan yang dipaparkan, yang membuat mata kecilku yang saat itu masih duduk di sekolah dasar begitu takut. Yang membuatku hanya mengangguk ketika seorang teman mengatakan begitu membenci PKI.

Tenyata, aku justru ‘dilindungi’ dari kenyataan akan kejahatan, kebengisan, dan kesadisan yang jauh lebih besar daripada itu.

Tentang jutaan orang yang nyawanya melayang, kepalanya ditebas, beberapa ditembak, beberapa hanya dibuang sembarangan, beberapa diasingkan di sebuah pulau, beberapa diisolasi di dalam suatu kawasan tandus yang dipagari aliran listrik.

Tentang sungai-sungai yang warnya berubah menjadi merah, dimana raga yang tak lagi memiliki jiwa mengapung di sana.

Tentang teriakan marah, histeris penuh hasutan kebohongan yang membuat darah mendidih

Tentang teriakan Allahuakbar di mulut, mendahului parang di tangan siap menebas kepala-kepala manusia hingga tak bernyawa

Tentang suara tembakan yang mengisi malam yang tadinya sunyi mencekam.

Tentang lebih banyak lagi orang yang dipenjara, disiksa, diperkosa, tanpa diadili, apalagi mendapat keadilan

Tentang lebih banyak lagi orang yang kehilangan ayah, ibu, kakak, adik, anak, yang diambil paksa di malam hari lalu tak pernah pulang

Tentang lebih banyak lagi orang yang mengalami pemiskinan, stigma, diskriminasi, seumur hidupnya

Kejahatan yang begitu luar biasa, yang tak pernah terbayangkan olehku sebelumnya. Oleh generasi  yang setiap tahunnya dipaksa menonton kebohongan

Lalu?

1965 sudah berlalu 46 tahun

Rezim sudah berganti, dengan pemimpin yang sudah berkali-kali berganti

Indonesia mendeklarasikan diri sebagai Negara yang menjunjung Hak Asasi Manusia, bahkan meratifikasi sejumlah Konvensi dan Kovenan Internasional terkait Hak Asasi Manusia

Tapi apa yang terjadi?

Kenapa kasus  65 tidak juga diungkapkan secara benar di pengadilan?

Apakah kita tengah menunggu seluruh saksi mata meninggal dunia, agar kejadian 65 tidak akan terungkapkan?

Lalu ketika banyak pihak yang hanya mencoba menyajikan sisi lain, berdasarkan mata, telinga, mereka, ataupun berdasarkan literatur yang mereka baca, karya mereka diberangus.

John Roosa yang bukunya dilarang terbit, padahal isinya sangat logis, dan membuat kita berpikir kritis tentang peristiwa kudeta tahun 65

Yang lebih parah, tahun 2007, buku-buku pelajaran sejarah dibakar, HANYA KARENA tidak mencantumkan PKI di judul bab Gerakan 30 September.

Oleh pemerintahan yang katanya reformis, hasil reformasi yang sanggup menggulingkan kekuasaan dikatator korup selama 32 tahun.

Jelas-jelas bangsa ini, begitu pengecut, tidak sanggup bahkan tidak ada niat sedikitpun untuk  mengungkapkan kebenaran.

Bahkan Museum manipulasi sejarah itu dipoles, diperbaiki, dibaguskan, ditambahkan relief, seakan berdiri sombong dan meledekku setiap aku melewatinya.